KAIN HIJAU BUAT MENYAPU SI AIR MATA DARI KARBALA

Di jalanan perumahan tempat kami tinggal, tampak seorang anak laki-laki duduk di lantai yang dingin. Ia berjualan berbagai macam cinderamata khas untuk para peziarah yang lewat.

Yang paling menyentuh hatiku adalah, begitu rendah hatinya terlihat dari sikap dan caranya duduk dan berjualan. Tak pernah sekalipun ia mendongakkan kepala dan menawar-nawarkan dagangan seperti yang biasa dilakukan para pedagang kaki lima selainnya.
Kuamati lelaki kecil ini hanya tersenyum kepada setiap peziarah yang lewat, sambil sesekali merapikan cinderamata yang ia jual; ikat kepala, bros-bros kecil,
dan bendera.
Tak seperti senyum lain, senyumnya pun adalah senyum kegembiraan, senyum yang memancarkan aura keimanan.
Kepolosan dan kerendahan hatinya itu, begitu menyentuh hati. Kesederhanaan dan sikap tulusnya menarikku untuk duduk dan berbincang sebentar dengannya.
Aku berjongkok di sampingnya dan
berkata,
“Assalamu’alaikum, Saudara kecilku.”
Anak kecil itu mendongak, melihat ke arahku sambil tersenyum, seolah memang sedari tadi, ia tengah menunggu seseorang menyapa dan mengajaknya bicara.
“Wa’alaikum salam wahai Peziarah Al-Husain, selamat datang, selamat datang!” sambutnya.
Aku bertanya,
“Siapa namamu?”
“Ahmad,” jawabnya.
“Berapa tahun, umurmu?” tanyaku lagi.
“Aku 11 tahun, Kak. Semoga Allah
memberkahi Kakak umur panjang sehingga bisa terus datang ke Karbala,” jawabnya lagi.
Ucapan terakhirnya yang berupa doa ini, membuat tenggorokanku seolah tercekat.
Sambil menahan air mata haru, aku
bertanya kembali kepadanya,
“Kenapa kau duduk sendirian di lantai yang dingin ini?”
“Kakak tahu? Ayah dan Ibuku sudah lama syahid dalam sebuah peristiwa ledakan bom sewaktu mereka hendak pulang ke rumah selepas Sholat Jumat. Dan sekarang, tinggal aku saja yang bisa dan mesti menafkahi empat saudara perempuan dan seorang saudara laki-lakiku yang cacat karena senjata kimia.”
Jawaban Ahmad terasa bagai belati yang menusuk jantungku. Tak mampu lagi kutahan air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk mata. Kepalaku tertunduk, serasa malu pada diriku sendiri.
Tanpa kusangka, dengan tangan kecilnya yang dingin, Ahmad mengusap air mata di pipiku.
“Jangan menangis Kak, ini adalah kehormatan untukku. Jangan berpikir kami sendirian. Kami sekarang adalah yatim-yatim Aba Abdillah Al-Hussain (as), dan aku adalah Sang Abbas di rumah. Adakah yang lebih mulia dari ini?” ujarnya seakan coba menghiburku.
Kupeluk bocah ini erat-erat. Rasanya tak ingin kulepas.
Saat aku bangkit, tiba-tiba Ahmad mengulurkan sehelai kain hijau yang diambilnya dari antara barang dagangannya.
Sembari tersenyum ia pun berkata,
“Kakak, ambillah ini sebagai hadiah dariku. Letakkan di atas sajadah tempat Kakak shalat, dan berjanjilah untuk tetap mengingatku. Mohon jangan Kakak lupa, namaku Ahmad dari Karbala,”
pintanya sambil menghadiahiku sehelai kain hijau itu, sebelum akhirnya kami berpisah.
Meski harus berpisah, namun sungguh, senyum itu terus membekas di hatiku.
Aku melangkah pergi seraya menyadari, ini adalah pelajaran besar dari Allah, untukku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s