Akhlak Imam Sajjad Pasca Karbala

Berikut adalah sebuah kisah singkat yang mengandung hikmah begitu dalam. Tentang keagungan dan tauladan seorang Imam Ali Zainal Abidin as Sajjad putra sekaligus saksi hidup tragedi yang menimpa Imam Husain as di Karbala. Imam Sajjjad as menyaksikan secara langsung bagaimana di hadapannya seluruh saudara, sahabat serta ayahnya dibantai oleh pasukan Ibnu Ziyad atas perintah Yazid bin Muawiyah dari dinasti Ummayah. Selepas itu, beliau beserta Sayidah Zainab sa dan para perempuan keluarga nabi digiring dan diarak dengan tangan dan kaki dirantai, hingga ke istana Yazid di Damaskus.

Dikisahkan beberapa waktu setelah tragedi Karbala, Yazid bin Muawiyah memerintahkan eksekusi terhadap beberapa orang jenderal sebab suatu masalah. Salah satunya adalah lelaki yang juga terlibat dalam pembantaian di Karbala.

Karena merasa terancam, lelaki itu melarikan diri ke Madinah. Di sana, ia menyembunyikan identitasnya dan tinggal di kediaman Imam Ali Zainal Abidin bin Husein, cicit Rasulullah yang selamat dari pembantaian Karbala. Di rumah sosok yang dikenal sebagai ‘as-Sajjad’ (orang yang banyak bersujud) ini, lelaki itu betul-betul dijamu dengan baik.

Ia disambut dengan sangat ramah dan disuguhi jamuan yang layak dalam tiga hari. Setelah tiga hari, lelaki pembantai dalam tragedi Karbala itu pamit pergi. As-Sajjad memenuhi kantong kuda lelaki itu dengan berbagai macam bekal, air, dan makanan.

Lelaki itu sudah duduk di atas pelana kidanya, namun ia tak kuasa beranjak. Ia termenung atas kebaikan sikap As-Sajjad. Ia merasa trenyuh karena sang tuan rumah tak mengenali siapa dia sebenarnya.

“Kenapa engkau tak beranjak?” tegur As-Sajjad. Lelaki itu diam sejenak, lalu ia menyahut,

“Apakah engkau tidak mengenaliku, Tuan?”

Giliran As-Sajjad yang diam sejenak, kemudian ia berkata,

“Aku mengenalimu sejak kejadian di Karbala.”

Lelaki itu tercengang. Ia tergugu dan memberanikan diri bertanya,

“Kalau memang engkau sudah mengenaliku, mengapa kau masih mau menjamuku sedemikian ramah?”

As-Sajjad menjawab,

“Itu (pembantaian di Karbala) adalah akhlakmu. Sedangkan ini (keramahan) adalah akhlak kami. Itulah kalian, dan inilah kami.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s