Dicabutnya Anak Panah dari Kaki Imam Ali

Pada suatu malam, di zaman pemerintahan rezim Pahlevi, Walikota Kerman menyelenggarakan perayaan hari raya Ghadir Khum (Idul Ghadir). Dalam acara tersebut Syekh Muhammad, seorang tokoh Ahlusunnah Kurdistan juga turut hadir. Seorang pembaca syair dan lagu pujian (maddah) membacakan cerita tentang dicabutnya anak panah dari kaki Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib [karramallahu wajhahu]. Anak panah itu dicabut ketika Imam Ali sedang melaksanakan salat, dan beliau sama sekali tidak merasa kesakitan. Syekh Muhammad yang saat itu duduk di dekat mimbar berubah wajahnya dan bergeser tempat sehingga tepat berhadapan dengan walikota, lalu berkata lantang, ”Tuan walikota, bukankah cerita ini sebuah dongeng belaka?! ”

Sang walikota bertutur, ”Aku terperangah, dan merasakan teriakan Syekh Muhammad di antara hadirin itu seperti gunung yang jatuh menimpaku. Aku merintih lirih, dan hatiku berucap, ‘Ini adalah malam Ghadir Khum, sepatutnya kami semua bahagia dan tersenyum. Ahh… aku tidak akan meladeninya. Tetapi, kalau aku tidak menjawab, hal itu bisa menjadi kekalahan bagi Islam. Di sisi lain, aku tahu bahwa dia adalah seorang alim dan aku bukan ahli ilmu [agama] yang bisa menjawab pertanyaannya atau mendiskusikan atau bermujadalah dengannya. Pada saat itulah, aku seakan-akan mendapat sebuah ilham, dan dalam benakku aku diperintahkan untuk mengatakannya, sehingga akupun berkata dengan kuat dan tenang, ‘Tuan, apakah Anda membaca al-Quran?’ Dia menjawab, ‘Ya’ Lalu aku melanjutkan, ‘Apakah yang akan Anda katakan tentang firman Allah yang berbunyi: “dan tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari-jari) tangannya.” (QS. Yusuf [12]: 31).

Wanita-wanita Mesir itu [hanya] menyaksikan keelokan seorang makhluk dalam sebuah jamuan Zulaikha. Di manakah kedudukan para wanita itu, dan di mana pula kedudukan Imam Ali yang melihat manifestasi Ilahi ketika beliau salat?! Jelas sangat sulit membandingkannya! Mereka melihat kerupawanan Nabi Yusuf as, dan seketika itu pula tidak sadar sehingga begitu saja mengiris jari-jari mereka. Maka, bukankah sangat wajar, ketika Amirul Mukminin as dalam kondisi sedang salat itu dirinya tenggelam menyaksikan manifestasi cahaya keagungan dan keindahan Sang Mahabenar!? Sungguh jelaslah, tidak ada persoalan jika beliau pun tidak merasakan bahwa anak panah yang menancap di tubuh (atau kakinya) itu dicabut.

Dengan pernyataan seperti itu, seakan-akan sang walikota telah menyumpalkan batu ke mulut Syekh Muhammad, dan Syekh itu pun menundukkan kepalanya, tanpa berkata sepatah kata pun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s