“Engkau akan Lebih Banyak Lagi Memperoleh Keberkahan”

Saya dengan beberapa teman tengah berada bersama Tuan Mujtahidi. Lalu salah seorang dari teman saya menceritakan sebuah kisah yang pernah didengarnya di Masyhad, dan sekaligus menanyakan tentang kebenarannya kisah, berikut kisahnya.

Salah seorang pelayan makam Imam Ali Ridha, sebelum revolusi, berangkat haji ke Mekkah bersama rombongan sebagai bertugas sebagai pelayan pada musim haji. Setelah selesai menunaikan rangkaian ibadah hajinya, para jamaah haji mempunyai waktu luang beberapa pun meluangkan waktunya untuk membeli oleh-oleh bagi sanak saudara dan handai taulan yang ada di kampung halaman.

Pada hari terakhir perjalanan, dikarenakan tidak mempunyai uang, pelayan itu dengan suka rela memutuskan untuk menjaga harta dan barang bawaan teman rombongannya. Ia duduk di dalam tenda sambil berkata dalam dirinya bagaimana ia harus kembali ke Masyhad tanpa membawa oleh-oleh. Semua teman rombongannya membeli dan menyiapkan oleh-oleh. “Hari ini pun karena merupakan hari terakhir, rombongan itu pergi untuk membeli oleh-oleh. Sementara saya, harus menahan malu karena tidak punya uang untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga saya,” demikian batinnya.

Ia berkata dalam batinnya, “Sekalipun tidak ada orang yang tahu namun tentu Allah Swt dan Imam Zaman as tahu bahwa saya adalah seorang yang senantiasa menjaga kemuliaan diri dan enggan meminta-minta kepada orang lain.”

Karena lelah tinggal sendirian di dalam tenda, ia pun membuka pintu tenda dan melihat para jamaah haji yang tengah lalu-lalang. Di dekat kemah itu, ia melihat seorang koki salah satu rombongan haji tengah sibuk memasak makanan untuk makan siang rombongannya.

Ketika sedang asyik menyaksikan pemandangan itu, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang memanggil namanya. Lalu ia pun menoleh ke arah datangnya suara, dan di sana ia melihat ada seorang pemuda ganteng penuh wibawa. Pemuda itu mengenakan pakaian panjang khas Arab dan berdiri di dekatnya. Dari dalam kantongnya pemuda itu mengeluarkan uang kertas dan diberikan kepadanya sambil berkata, “Fulan, uang seratus tuman ini akan mencukupimu.”

Ia mengambil uang itu dan masuk kembali ke kemah. Setelah beberapa saat, ia bertanya kepada dirinya, “Siapa pemuda itu? Dari mana ia mengenal saya? Dan dari mana ia tahu saya sedang membutuhkan uang? Dan yang paling penting dari semua itu ialah ia mengatakan, “uang seratus tuman ini akan mencukupimu. ”

Ia pun segera keluar dari dalam kemah namun tidak melihat pemuda itu lagi. Di dalam hati ia bertekad tidak akan
menceritakan kepada siapa pun tentang pertemuannya dengan pemuda itu. Sedikit demi sedikit ada keyakinan yang semakin menguat jangan-jangan bahwa pemuda itu tidak lain adalah Imam Zaman as. Ia merasa menyesal karena sudah lalai dalam hal ini.

Ketika temam-teman rombongannya kembali ke kemahnya, ia malah pergi ke pasar membeli oleh-oleh yang banyak. Ketika temannya melihat ia datang dari pasar dengan membawa barang bawaan yang banyak, mereka pun keheranan dan bertanya, “Bukankah sebelumnya kamu mengatakan tidak akan membeli apa-apa? Apa yang terjadi sehingga kamu berubah pikiran?” Menanggapi pertanyaan teman-temannya itu ia hanya tersenyum.

Ketika ia telah kembali ke Masyad, suatu hari di jalan Dast-e Bolo, ia melihat pemuda (yang memberi uang) itu berada di kerumunan orang-orang. Perlahan-lahan ia pun mendatangi pemuda itu, lalu memegang tangannya seraya berkata, “’Tentu kamu masih mengenal saya. Saya adalah orang yang telah engkau beri uang seratus tuman di kemah di kota Mekkah, dan engkau mengatakan, “Uang seratus tuman ini akan mencukupimu”

Pemuda itu berkata kepadanya, “Engkau telah salah sangka terhadap saya. Saya, untuk jadi debu kaki Imam Zaman saja belum pantas.”

Pemuda itu dapat mengetahui isi pikirannya. Dengan segera ia memeluknya seraya berkata kepada pemuda itu, “Uang yang kamu berikan keada saya sangat penuh berkah. Hingga sekarang, dengan uang itu banyak barang yang telah saya dibeli, namun uang itu tidak habis-habis.”

Kemudian, pemuda itu berkata kepada pelayannya, “Selama engkau tidak menceritakan peristiwa ini kepada seorangpun, engkau akan lebih banyak lagi memperoleh keberkahan darinya.” Lalu, pemuda itu pun pamit dan pergi.

Beberapa hari setelah itu, pelayan makam Imam Ali Ridho as akhirnya, karena selalu didesak oleh istrinya, dengan terpaksa menceritakan peristiwa itu kepada istrinya dan uang itu pun segera habis.

Setelah selesai menceritakan kisah ini, teman saya bertanya kepada Tuan Mujtahidi, “Apakah peristiwa ini benar terjadi? Bagaimana mungkin dengan uang seratus seseorang dapat membeli barang seharga ribuan tuman?”

Syekh Mujtahidi menjawab, kejadian yang seperti ini sering terjadi dan tidak aneh. Uang yang berasal dari sisi para imam mernpunyai keberkahan tersendiri. Jika orang itu tidak menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada orang maka hingga akhir umurnya ia dapat hidup dengan uang itu dan tidak lagi memerlukan bantuan orang lain.

“Terkadang keberkahan ini diletakkan pada harta seseorang dan terkadang pula pada umur seseorang. Memangnya, berapa banyak umur yang dimiliki Almarhum Allamah Majlisi, sehingga ia dapat menulis kitab Bihar al-Anwar? Mengapa keberkahan ini tidak dimiliki setiap ulama? Umur beliau sedemikian berkah sehingga mampu menyusun ensiklopedia hadis yang sedemikian besar ini.

Pada masa kita sekarang ini, kita mendapati ulama-ulama yang mempunyai umur yang penuh berkah, seperti Almarhum Haji Syekh Abbas Qummi dan Almarhum Allamah Amini, yang karena keberkahan umurnya, dapat mewariskan karya-karya yang sangat berharga. “Tuan, tidak semua orang beruntung memperoleh taufik yang seperti ini. Allah Swt yang memberikan berkah ini, dan Imam Zaman as ditugaskan membagikannya kepada hamba- hamba Allah yang layak mendapatkannya.”

Kemudian, Syekh Mujtahidi menoleh ke arah saya dan berkata, “Tuan Mujahidi, jiwa syair yang Allah Swt berikan kepadamu, apakah dengan mengubah syair kemampuan itu menjadi semakin berkurang atau bertambah?”

Saya jawab, “Pengalaman menunjukkan bahwa semakin sering seorang penyair menggunakan jiwa syair yang Allah anugerahkan kepadanya maka kemampuan jiwa Syairnya semakin bertambah.”

Syekh Mujtahidi berkata, “Anda jangan anggap enteng masalah ini. Ini sama seperti orang diberi uang sebanyak sepuluh ribu tuman, lalu uang itu digunakan, namun uang itu tidak semakin berkurang malah semakin bertambah. Apakah ini karunia yang kecil?! “Masalah ini, sesungguhnya lebih besar dan lebih penting dari uang yang diberikan kepada pelayan Imam Ali Ridha itu. Jika dalam uang itu ada keberkahan maka pada jiwa seni yang Allah berikan kepadamu terdapat keberkahan yang berlipat. Jika dengan menceritakan rahasia yang dialaminya, uang yang diperoleh pelayan makam Imam Ali Ridha menjadi habis, namun berkenaan dengan Anda, meskipun semua orang tahu bahwa Anda seorang penyair, namun karunia yang Allah berikan kepada Anda ini tidak menjadi berkurang malah semakin bertambah.
“Poin penting yang dapat disimpulkan di sini bahwa jika Anda tidak menggunakan karunia Allah ini maka secara perlahan ia akan lenyap. Ini artinya bahwa karunia ini diberikan untuk digunakan bukan untuk dibiarkan. Inilah kekayaan yang semakin banyak digunakan semakin bertambah dan sebaliknya semakin banyak tidak digunakan semakin berkurang dan kemudian hilang sama sekali.”

Kesimpulan:

Tidak selamanya seorang manusia memperoleh karunia tertentu. Jika suatu hari ia memperoleh karunia ini, maka ia harus menghargainya dan mengucapkan syukur kepada Allah Swt. Karunia yang semacam ini biasanya bersifat khusus, maka karena itu kita tidak boleh menganggapnya enteng.

Allah Swt telah memberikan karunia yang sedemikian banyak kepada kita, namun sayangnya kita bukan hanya tidak mensyukuri karunia-karunia ini bahkan kita tidak pemah menyadarinya.

Sumber : Bingkisan Alam Lahut/al-Huda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s