Imam Ali, Sang Pendekar Sosialisme 

Saat Ali menjadi khalifah Islam yang keempat menggantikan Utsman. Ia membuat kebijakan-kebijakan yang membela orang miskin dan memotong tangan-tangan para kapitalis yang menindas. Waktu itu, kapitalis disebut sebagai saudagar. Simak laporan seorang anak muda yang hidup pada zamannya dan menjadi ulama besar pada zaman berikutnya.
Syu’bi berkata, “Pada suatu hari aku melewati Baitul Mal (Kantor Pusat Bulog). Imam Ali tengah mengawasi distribusi kekayaan negara. Aku melihat para budak hitam dalam satu barisan bersama para saudagar. Mereka mendapatkan bagian yang sama. Dalam waktu sekejap, tumpukan mata uang emas dan perak habis terbagi. Khazanah negara pun kosong. Imam Ali berdoa dan meninggalkan kantor itu dengan tangan hampa. Ia telah memberikan bagiannya kepada seorang perempuan tua yang mengadu karena bagiannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.”

Para saudagar mendapat jatah yang sama setelah sebagian harta mereka diambil oleh negara. Karena itu, para saudagar membentuk persekongkolan rahasia untuk menjatuhkan Ali. Bersama para pemimpin kabilah, mereka menjauh dari Ali.

Utsman bin Hanif, salah seorang sahabat dekatnya, memberikan nasehat kepada Imam: “Anda telah berhasil melaksanakan tugas-tugas Anda, mulai dari mekanisme distribusi keuangan publik secara adil, menyama-ratakan bagian bagi para pejabat pemerintah dan rakyat jelata, mengangkat status orang hitam dan Persia sehingga setingkat dengan orang Arab, memberikan bagian sama besar antara budak dengan tuannya, menghapuskan hak-hak istimewa bagi para pejabat pemerintah, dan terakhir menghapus pemberian fasilitas dan tunjangan khusus bagi pejabat. Semuanya itu telah mendatangkan kerugian bagi Anda. Lihatlah, inilah yang menjadi sebab menjauhnya para tokoh dan sudagar Arab dari Anda. Mereka memilih untuk mendekati Muawiyah. Apa gunanya orang-orang miskin, orang-orang cacat, janda-janda tua, dan budak-budak hitam itu bagi Anda? Apakah mereka mampu membela dan melayani Anda?”

Mungkin di zaman sekarang ini, Utsman bin Hanif boleh kita sebut sebagai penasehat khusus Presiden. namun dengarkan jawab Sang Imam: “Tidak akan aku biarkan para tokoh yang berpengaruh dan saudagar kaya raya mengeksploitasi umat Islam. Aku sangat membenci sistem distribusi uang negara yang tidak adil. Aku tidak akan pernah membiarkan hal seperti ini. Kekayaan ini milik rakyat, berasal dari rakyat, dan diperuntukkan bagi rakyat. Bukan para saudagar dan tokoh yang membuat kekayaan ini. Mereka hanya menjarahnya dari rakyat, mengkorupsi uang pajak dan lain-lainnya. Jumlah pajak yang mereka korupsi jauh lebih banyak daripada yang mereka kembalikan kepada negara. Mereka menyelewengkan dana pajak itu untuk kepentingan pribadi mereka. Perilaku mereka yang korup dan suka menyelewengkan keuangan negara itulah yang menjadi keprihatinanku selama ini. Aku malah gembira jika mereka menjauhiku. Aku tidak mengharapkan pengabdian orang-orang cacat dan orang-orang miskin. Aku mengerti sepenuhnya mereka tidak mampu mengabdi kepadaku. Ketahuilah, aku hanya ingin menolong mereka, karena mereka tidak mampu menolong diri mereka sendiri. Mereka juga manusia sama seperti kamu dan aku. Semoga Allah memberikan kekuatan bagiku untuk menjalankan semua tugas ini.” (Dikutip dengan beberapa perubahan redaksional dari Gold Profile of Imam Ali).

karena pembelaan Imam Ali pada rakyat kecil, pada kaum mustadhafin inilah, para saudagar-saudagar dan konglomerat-konglomerat korup berpihak pada Muawiyyah yang mbahnya korup itu. hingga sejarah berputar dan pedang beracun Ibnu Muljam yang terkutuk menebas leher Imam Ali yang disaksikan langit dan bumi sebagai pendekar PEMBELA kaum mustadhafin hingga akhir hayat…

Salam ya Imam… Salam Wahai Pemimpin kami… Salam wahai pembela kaum miskin yang teraniaya… Salam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s