Ini Keutamaan Lapar dan Diam 

Tujuan dari penciptaan manusia adalah mengantarkan mereka kepada kesempurnaan akhir dan menyampaikan pada kedudukan abadi. Untuk mencapai kedudukan tersebut, ditetapkan agar memiliki empat syarat yang telah disebutkan dalam penggalan hadis mikraj sebelumnya. Dengan menjalankan keempat syarat tersebut, Allah Swt menjamin mereka masuk ke dalam surga. Dua dari empat syarat tersebut berhubungan dengan anggota badan lahiriah (berkenaan dengan lisan dan perut), dan dua syarat lain berkenaan dengan perkara-perkara hati dan batiniah. Salah satu dari dua syarat terakhir memiliki sisi negatif. Artinya, menjaga hati dari waswas setan. Syarat yang lain memiliki sisi positif, yaitu kesadaran manusia akan kehadiran Allah dan pengawasan-Nya terhadap mereka. Jelas, menjalankan dua syarat pertama lebih mudah. Berbeda dengan dua syarat terakhir, sulit untuk menjalankannya; kita membutuhkan latihan batiniah yang banyak.

Secara mendasar, menjaga lisan dari ucapan yang tidak benar dan menjaga perut dari sifat rakus merupakan salah satu jalan untuk melawan setan. Walau perangkap setan tidak terbatas pada lisan dan perut saja, tetapi keduanya merupakan alat yang paling kuat bagi setan dalam rangka membuat manusia menyimpang. Sebab, barangsiapa bisa mengontrol perutnya, maka ia pun akan bisa mengontrol syahwatnya. Juga, barangsiapa mampu menjaga lisannya maka ia akan mudah menjaga indra yang lain.

Faktor paling besar yang menghilangkan kesadaran, perasaan, pengetahuan serta menghilangkan kehadiran hati dari manusia adalah perut yang penuh dengan makanan. Manusia yang perutnya penuh tidak akan bisa berpikir, dan tidak akan bisa berhasil dalam belajar, ia juga tidak akan bisa meraih kehadiran hati ketika salat atau ketika melakukan amalan yang lain. Masalah ini sudah terbukti, Karenanya, sudah menjadi yang populer perumpamaan “ibadahnya” orang yang kenyang bagaikan orang yang merengek dalam keadaan mabuk.

Orang dalam keadaan mabuk tidak memiliki kesadaran, sebab ketika ia merengek, perbuatan tersebut tidak bernilai dan tidak sah. Karena itu, doa dan amalan manusia yang kenyang serta beribadah dengan perut yang penuh tidak akan memiliki nilai.

Ketika perut dalam keadaan penuh, maka pemahaman serta kesadaran yang menjadi kekhususan manusia akan hilang. Persis seperti seekor burung yang kakinya dibebani oleh sesuatu yang berat, semakin berat beban tersebut, semakin sulit baginya untuk bisa terbang. Maka, penuhnya perut bagaikan beban berat yang diikatkan di kaki burung. itu akan membuat roh manusia menjadi tertutup dan menjadi penghalang ia untuk terbang. Bahkan sebaliknya, akan membuat ia jatuh ke dalam materi dan hilangnya cahaya serta kelembutan hati manusiawinya. Akibatnya, kesempurnaan rohani tidak akan bisa diraih.

Jelas, pengetahuan tentang hubungan antara roh dengan badan bukanlah perkara mudah, yang bisa disampaikan dengan kajian yang pendek. Akan tetapi kesimpulannya, bahwa barangsiapa perutnya penuh makanan, ia akan merasakan bahwa rohnya tidak mampu untuk terbang dan mencapai puncaknya. Ini bagaikan seekor burung yang kakinya terikat oleh beban yang sangat berat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s