KEUTAMAAN PARA WALI ALLAH

Dalam kelanjutan hadis mikraj, Allah Swt berfirman kepada Nabi Muhammad saw,
”Wahai Ahmad! Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah istana yang terbuat dari mutiara di atas semua mutiara, serta dari permata di atas semua permata, di mana tidak terdapat di sana keretakan atau kerusakan. Di sana terdapat orang-orang khusus, dan Aku melihat kepada mereka tujuh kali dalam sehari, maka Aku berbicara kepada mereka setiap kali Aku melihatnya. Aku tambahkan kepada apa yang mereka miliki sebanyak tujuh kali lipat dan jika ahli surga merasakan kelezatan dengan makanan dan minuman, mereka merasakan kelezatan dengan zikir kepada-Ku, serta dengan berbicara dan berkata-kata dengan-Ku.

Nabi saw berkata, ‘Wahai Tuhanku! Apakah ciri-ciri mereka?’

Allah Swt berfirman, “Mereka adalah orang-orang yang terpenjara, di mana lidah mereka dipenjara dari banyak bicara dan perut mereka dipenjara dari banyak makan.”

Mereka itu orang-orang yang tidak berbicara sesuatu yang tidak ada faedahnya, serta menghindar dari memakan makanan yang membuat hilangnya semangat beribadah dan taat kepada Allah. Karenanya, jika ia berkata, itu hanya dalam rangka mendapat keridaan-Nya, serta memakan makanan hanya agar bisa menjalankan kewajibannya. Dengan memerhatikan kalimat pertama dari kutipan hadis ini-yakni tentang tanda-tanda salah satu dari istana-istana yang ada di surga, ternyata kita tidak akan mampu menggambarkan secara detail hakikat-hakikat alam akhirat.

Ciri-ciri alam itu sangat berbeda dengan ciri-ciri yang ada di alam ini. Kita, dengan gambaran-gambaran khayali yang dimiliki manusia, tidak akan bisa menggambarkan hakikat dan bentuk alam sana. Yang kita gambarkan adalah warna-warna, bentuk serta sifat-sifat dari sesuatu yang ada di alam ini. Melalui indra kita, kita mencoba mengetahui hakikat sesuatu tersebut, sementara sistem yang dimiliki oleh alam sana secara keseluruhan berbeda dengan yang ada di alam ini. Kita sama sekali tidak akan bisa mencerap hakikat yang ada dialam sana, sebab hakikat alam sana sangat jauh untuk bisa disentuh, dan indra kita tidak akan bisa meraihnya.

Ciri-ciri serta sifat-sifat alam akhirat telah banyak disebutkan dalam riwayat-riwayat serta ayat-ayat. Akan tetapi informasi tersebut hanya berupa gambaran buram, dan hanya terdapat sedikit persamaan antara sana dengan alam kita. Serta dari perbandingan kenikmatan-kenikmatan yang ada di alam sana dengan alam kita sekarang, hanya gambaran buram yang kita dapat. Karena, ciri-ciri yang disebutkan di atas, batas indra dan kekuatan pemahaman kita sangat rendah untuk bisa memahami hakikat-hakikat alam sana.

Salah satu ciri yang disebutkan dalam hadis tersebut dan kita tidak benar-benar bisa menggambarkannya adanya sebuah istana yang terbuat dari mutiara dan permata, di mana karena kebeningan yang dimiliki oleh permata tersebut, tidak terlihat di sana sedikit pun garis atau kotoran. Ungkapan yang ada dalam hadis ini mengenai istana lebih tinggi dan lebih luas dari apa yang bisa kita bayangkan. Dalam sebagian riwayat disinggung mengenai rumah-rumah yang ada di surga, yang terbuat dari emas dan perak.

Di tempat lain disebutkan bahwa di surga terdapat istana-istana yang bagian dalam istana tersebut bisa dilihat dari luar. Hal ini cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa seluruh istana yang telah dibuat dan akan dibuat di alam dunia tidak bisa dibandingkan dengan istana-istana surga. Istana yang paling sederhana dan paling jelek di surga lebih bagus seribu kali lipat dibanding dengan istana-istana termegah yang ada di dunia.

Di antara istana-istana tersebut, terdapat sebuah istana paling megah dan paling indah yang akan dihuni oleh orang-orang khusus. Para penghuni istana ini tidak tertarik pada makanan atau minuman surga, walaupun makanan serta minuman surga jauh lebih nikmat dan lebih lezat dibandingkan dengan makanan dan minuman dunia. Orang yang memiliki kemauan tinggi akan meninggalkan kelezatan dunia demi meraih kelezatan makanan dan minuman surga. Akan tetapi di antara ahli surga, terdapat orang-orang yang sama sekali tidak perhatian pada itu semua.

Tentang seberapa perbandingan antara makanan dan minuman surga dengan makanan dan minuman dunia adalah pembahasan lain, di mana tentang hal ini Allah Swt .berfirman dalam al-Quran: ”Dan Allah memberikan kepada mereka minuman yang bersih.” (QS. al-Insan [76]:21)

Di ayat lain, Allah Swt berfirman, Mereka diberi minum dari khamar murni yang di lak (tempatnya). Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. al-Muthaffifiin [83]: 25-26)

Mengingat Allah dan Berbicara dengan-Nya: Kelezatan Terbesar bagi Para Wali

Sekelompok ahli surga tidak perhatian dan tidak tertarik (pada makanan dan minuman surga yang disediakan Allah Swt untuk mereka. Jika ahli surga (yang lain) menikmati lezatnya makanan dan minuman surga, sementara mereka menikmati lezatnya kalam dan ucapan-Ku.

Apa yang mereka dapati dalam zikir kepada Allah dan berbicara dengan-Nya sehingga membuat mereka tidak perhatian dengan kelezatan-kelezatan yang lain? Untuk menjelaskan masalah ini, kita akan membawakan sebuah pendekatan jika manusia duduk di hadapan sebuah hidangan yang penuh dengan makanan dan minuman serba lezat dan nikmat, di mana yang satu lebih lezat dibanding yang lain. Ada jenis makanan yang sepuluh persen lebih lezat dari yang lain. Ada yang lebih lezat dua puluh persen. Ada juga yang lebih lezat tiga puluh persen. Dan begitulah seterusnya. Dengan adanya makanan yang memiliki kelezatan seratus persen dibanding yang lain, tanpa adanya alasan dan dalil, apakah seorang yang berakal memilih makanan yang lain yang lebih rendah kadar kelezatannya?! Sekarang, jika ada sesuatu yang lebih lezat dari makan dan minum, bahkan tidak perlu proses memakan dan meminum, tentu orang akan lebih memilihnya.

Oleh karena itu, tidak masuk akal jika manusia duduk di sebuah hidangan, tidak peduli terhadap makanan yang lebih lezat, tetapi memilih makanan kurang lezat. Pasti, para wali Allah mengetahui adanya makanan dan minuman surga, tetapi mereka punya alasan untuk tidak memerhatikannya. Yaitu, bagi mereka, kelezatan mengingat dan berdialog dengan-Nya yang jauh melebihi makanan dan minuman surga.

Penjelasan lebih jelas lagi tentang kelezatan mengingat dan berdialog dengan Allah Swt, perlu ditekankan, bahwa ketika perut manusia penuh dengan makanan, jika ditawarkan memakan makanan yang sangat lezat, selain ia tidak memiliki selera untuk memakannya, bahkan mungkin ia akan merasakan mual. Ketika manusia menikmati suatu makanan lezat, hendaklah yang dibutuhkan oleh badan, dan rasa lapar adalah bukti butuhnya badan. Begitu pula ketika haus, ia merasakan kelezatan ketika meminum minuman yang dingin.

Sekarang, ada sebuah pertanyaan: Apa yang paling dibutuhkan oleh manusia? Jelas, tubuh kita butuh makanan dan air. Ini merupakan kebutuhan materi dan hewani. Begitu pula ketika tumbuhan membutuhkan makanan, bisa dikatakan bahwa kebutuhan kepada makanan merupakan kebutuhan nabatinya. Namun, nilai kemanusiaan seorang manusia bukanlah perut, yang ketika perut kosong kemudian diisi dengan makanan, berarti ia sudah memenuhi kebutuhan manusiawinya. Akan tetapi seperti yang telah dikatakan, kebutuhan kepada makanan adalah kebutuhan jasmani dan hewani; semakin terpenuhi kebutuhannya yang banyak, maka akan merasakan kelezatan yang banyak. Harus dicatat pula bahwa tidak ada kebutuhan yang lebih besar dimiliki oleh manusia lebih dari kebutuhannya kepada Allah Swt. Sebab seluruh kebutuhannya bisa terpenuhi lewat perantara salah satu dari kenikmatan Allah Swt, yang segenap alam wujud bisa terwujud dengan satu kehendak.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ”Jadilah!” Maka terjadilah ia (QS. Yasin [36] : 82)

Keberadaan segenap alam wujud merupakan manifestasi kehendak Allah Swt. Jika sesaat saja kehendak-Nya terputus, segenap alam akan hancur lebur. Kita membutuhkan seluruh manifestasi kehendak Ilahi. Mulai dari matahari dan langit, sampai pada tanah, air serta segala sesuatu yang muncul darinya. Semua ini ada karena izin dan kehendak Allah. Ketika kebutuhan kita bisa terpenuhi dengan sesuap roti-yang dalam sistem penciptaan tidak lebih dari seujung jarum dan kita menikmati kelezatannya, maka seberapa banyak kebutuhan kita kepada yang telah menciptakan segenap alam wujud ini dengan kehendak-Nya?

Jika kita membutuhkan udara, pada hakikatnya kita membutuhkan Allah Swt yang telah menciptakan dan memberikannya buat kita. Jika kita butuh kepada makanan, hakikatnya kita butuh kepada-Nya. Begitu pula dengan seluruh kebutuhan yang tidak mungkin manusia lepas dengannya, yang itu semua tidak mungkin bisa dihitung dan tidak ada batasannya.

Jika manusia, dengan bantuan fasilitas ilmiah yang detail dan dengan komputer yang canggih, mampu menghitung seluruh kebutuhannya, maka mereka akan mendapatkan angka yang sangat memukau. Semua ini merupakan ketergantungan dan membutuhkan sebuah kehendak Ilahi. Yaitu, sebuah pekerjaan Allah, yang itu merupakan jelmaan dari Zat Maha TakTerbatas-Nya. Oleh karena itu, seberapa besar kita berpikir dan memeras otak serta menggunakan seluruh fasilitas dunia yang super canggih dan modern, tetap tidak akan bisa menghitung kadar kebutuhan kita pada Allah Swt.

Jika kita mengetahui dasar kebutuhan dan jalan untuk bisa memenuhinya, kita akan bisa merasakan sebesar apa kelezatan berhubungan dengan Allah Swt sebagai kelezatan dunia yang paling tinggi merupakan contoh kecil dari suatu Wujud yang Tak-terbatas yang seluruh kebutuhan kita tergantung kepada-Nya. Jika kita mengetahui seluruh kebutuhan kita, mengetahui bahwa hanya Dia yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut, betapa besar kelezatan kita ketika kebutuhan kita terpenuhi, yang seluruh kelezatan yang lain tidak lagi memiliki arti. Para penghuni surga tahu betul akan kedua hal ini, yaitu apa kebutuhan mereka dan hanya Allah yang bisa memenuhi segala kebutuhan mereka.

Adalah penting mencermati kalimat berikut, “Aku melihat kepada mereka tujuh kali dalam sehari.” Dari sini jelas bahwa Allah ingin menjelaskan azab yang paling pedih dan paling buruk yang akan ditimpakan kepada hamba-Nya yang jahat, munafik, membangkang, dan orang-orang yang melakukan kejahatan yang paling besar, tidak mengikuti yang hak dan menghina martabat suci Ilahi.

Allah Swt berfirman: “Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat”.(QS. Ali Imran [3]:77)

Mesti kita pahami bahwa ketika Allah tidak mau berbicara dan melihat hamba-Nya, ini merupakan siksaan yang paling besar. Sebaliknya, ketika Dia berbicara dan melihat hamba-Nya, ini sungguh karunia yang teramat besar (yang didapat sang hamba). Jelas, mengetahui perkara ini merupakan suatu yang penting dan sangat diperhatikan. Sebenarnya, anak-anak kecil sangat memahami masalah ini. Ketika dua anak bersahabat dan mereka betul-betul saling menyukai satu sama lain, lalu yang satu hendak memberi peringatan kepada yang lainnya karena suatu kesalahan, maka ia akan bersikap marah kepada temannya. Ketika berpapasan dengan sahabatnya, ia memalingkan muka darinya. Dan ketika sahabatnya mengajak bicara, ia tidak mau menanggapinya. Perlakuan ini, jika terjadi kepada anak yang saling bersahabat, merupakan siksaan yang sangat besar, dan ketika kecintaan mereka semakin besar, ini akan terasa lebih menyiksa. Sangat disayangkan ketika manusia tumbuh lebih besar, bukannya ia menumbuhkan perasaan-perasaan lembutnya, malah menumbuhkan perasaan-perasaan hewaninya. Apa yang didapat oleh anak kecil dengan naluri fitrahnya, bahwa pandangan kasih sayang sang teman lebih berharga dari segala kelezatan. Karena hanya memedulikan perut dan kehidupan hewani, kita tidak memahami bentuk kebutuhan seperti ini; lupa bahwa kelezatan apa saja yang berfaedah bagi kita serta menurunkan (derajat) kita pada batas hewani. Kita hanya membatasi kelezatan kita kepada makanan dan minuman, namun lalai bahwa kelezatan-kelezatan manusiawi sangat bernilai, sangat besar dan sangat lembut, yang jika itu diperoleh seseorang, kita akan berpaling dari segala kelezatan duniawi dan hewani.

Sangat disayangkan ketika kelezatan materi terlalu menyibukkan kita, menghalangi hati kita untuk merasakan kelezatan maknawi dan manusiawi. Kelezatan duniawi tidak membiarkan manusia untuk menyadari betapa kita membutuhkan Allah Swt. Hubungan kita dengan-Nya lebih besar kelezatannya bagi manusia dibanding kelezatan duniawi. Kelezatan ini juga membuat manusia selalu memerhatikan kehidupan hewani dan terlepas dari kehidupan rohani dan maknawi, serta menghalangi manusia untuk menjadi sempurna. Sangat disayangkan, semakin waktu berlalu, bukannya kita menjadi sempurna dan mendekat kepada (alam) malakut dan lebih tinggi dari para malaikat dengan meraih maqam wali-Nya. Kita malah makin jatuh kepada alam materi, seperti seekor hewan yang terjebak dalam lumpur. Jika kita ingin selamat dari kondisi yang buruk ini dan keluar dari kehinaan, hendaklah kita berusaha keras dan mengurangi perhatian serta keterikatan kepada dunia.

Jelas, semakin manusia besar perhatiannya kepada sesuatu, ia akan mencintainya dan akan merasakan kelezatan darinya. Orang yang siang dan malam berusaha mendapatkan makanan yang lebih lezat lagi, jika mendengar di suatu tempat ada makanan yang lezat, ia akan mengejarnya. Semakin hari justru semakin cinta kepada makanan dan minuman, membatasi kelezatan hanya padanya, serta tidak memahami hakikat apa di balik itu.

Jika ingin terlepas dari kondisi seperti ini, manusia harus berpaling dari kelezatan materi, sehingga kecintaan kepada materi akan berkurang. Maka, ketika itu ia akan berpaling kepada apa yang ada di balik materi dan kelezatan-kelezatan maknawi. Seperti yang telah disebutkan tentang sekelompok penghuni surga: mereka di akhirat tidak peduli terhadap makanan dan minuman surga. Kelezatan mereka terletak pada zikir dan mendengar kalam Allah Swt.

Kelezatan mereka adalah penyaksian atas rahmat Ilahi; Allah Swt telah memberinya inayah dengan berbicara kepadanya dan menanyakan keadaannya.

Orang-orang yang tidak tertarik pada makanan dan minuman serta semua kelezatan surga, di dunia pun mereka tidak tertarik pada hal-hal seperti itu. Jika tidak, seperti halnya mereka di dunia, yakni masih saja tertarik pada hal-hal tersebut, di akhirat pun akan menyukainya. Sebab, hasrat manusia di akhirat mengikuti hasrat mereka ketika di dunia. Kelezatan-kelezatan yang diberikan kepada manusia di alam akhirat sejenis dengan keadaan serta kehendak mereka di dunia ini. Dalam al-Quran Allah Swt berfirman, Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ”Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa”(QS. Al-Baqarah [2]:25)

Oleh karena itu, kenikmatan yang diberikan kepada manusia di alam akhirat sejenis dengan kenikmatan yang disukainya ketika ia hidup di dunia. Sebab, jika diberikan kepadanya kenikmatan yang tidak bisa mereka rasakan, maka ia tidak akan merasakannya. Ini bukanlah sebuah kenikmatan baginya. (Kenikmatan diberikan kepada seseorang dengan sesuatu yang disukainya). Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati.” (QS. al-Zukhruf [43]:71)

Bagi orang-orang seperti para nabi, kelezatan mereka terletak dalam berbicara dengan Allah. Di dunia mereka tidak tertarik pada kenikmatan (walaupun) halal, sebab mereka mengejar kenikmatan yang lebih besar dari itu, dan makanan rohnya bisa terpenuhi dengan pertemuan Ilahi. Walaupun di dunia mereka tidak sampai kepada derajat Allah Swt berbicara dengannya, karena hanya para nabi yang telah sampai kepada maqam ini. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. al-Nisa’[4]:146)

Seorang mukmin yang berharap dan rindu bisa berbicara dengan Allah Swt. Mereka menghindar berbicara dengan manusia atau berbicara yang tidak ada manfaatnya. Walaupun ia tidak punya kelayakan untuk itu, tetapi ia berharap di akhirat kelak bisa mendapat taufik ini.

Sebagian orang, ketika masuk ke dalam sebuah majelis, berharap supaya majelis diisi dengan obrolan-obrolan dan dipenuhi dengan makanan dan minuman serba lezat. Akan tetapi di lain pihak, terdapat orang-orang yang ketika berada di tempat yang sepi, ia merasa leluasa bernapas dan menyibukkan diri untuk bermunajat kepada Allah. Dan ketika mereka sedang berada di tengah-tengah masyarakat, semua tugas sosialnya tidak menghalangi ia dari mengingat Allah dengan sempurna. Dan saat ini adalah kesempatan baginya untuk bermunajat dengan sang kekasih.

Ketika Rasulullah saw bertanya, “Apakah ciri-ciri wali (kekasih)-Mu?”

Allah Swt menjawab: ”Mereka adalah orang-orang yang memenjarakan lisan mereka dari berbicara yang tidak berguna dan menjaga perut-perut mereka dari makanan yang banyak.”

Jika mereka berkata sesuatu, itu merupakan kehendak Allah; dan jika mereka menyantap makanan, bukan karena rasa yang dimiliki makanan tersebut, tetapi karena itu diridai oleh-Nya. Dengan demikian mereka mendapat kekuatan untuk senantiasa taat dan beribadah kepada-Nya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s