Menangisi Imam Husein as 

Para ulama banyak menggunakan dalil dari Al- Qur’an tentang menangis di antaranya adalah :

1. Surat an-Najm (Q.S. 53 : 59-60)

أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ

وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ

Maka Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? (Q.S. 53 : 59-60)

Apakah kalian heran terhadap pemberitaan tentang perjalanan hidup manusia al-Qu’ran yaitu Rasulullah saw dan Ahlulbaytnya hingga kalian tertawa (mengejeki) dan tidak menangis, karena keterbatasan pengetahuan atau ketidak tahuan.

Pertanyaan dalam ayat ini bernada keras berupa peringatan? Al-Qur’an al-karim dan Rasulullah adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Begitu pula antara Rasulullah saw dan Imam Husein. Karena Rasulullah dalam sabdanya menyebutkan : ”Husein dariku dan aku dari Husein”.

2. Surah Al-Isro (17) ayat 107 – 109

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

Melalui ayat-ayat mulia di atas dapat kita simpulkan bahwa ilmu dan makrifat (pengetahan) adalah penyebabnya tangisan.

Setiap orang yang mengetahui hakikat sesuatu, mengetahui hakikat Rasulullah saw dan mengetahui hakikat Imam Husein a.s. maka nuraninya akan peka atas penderitaan orang lain dan gampang menangis.

Sesuai dengan hadis Nabi saw : ”Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.

Tangisan yang hakiki ini menyebabkan timbulnya rasa khusyuk. Namun hati manusia tidak dapat menjadi khusyuk kalau mereka tidak merasa sedih atas musibah dan kesulitan yang menimpa orang lain. Sehingga menimbulkan kesadaran (kepedulian / peka) yang pada akhirnya berusaha untuk meringankan penderitaan orang lain.

Dibacakan Al-Qur’an juga sama maknanya dibacakan kejadian-kejadian yang menimpa manusia mandatarisnya Al-Qur’an yaitu Rasulullah saw. dan Ahlulbaytnya.

Tangisan juga bermakna istighfar kalau disertai penyesalan terhadap kelalaian dan dosa serta ketidak pedulian.

HADIS-HADIS MENANGISI KELUARGA NABI SAW

Diriwayatkan dari Kitab Mustadrok Wasail juz 10 halaman 319 diriwayatkan dari Syeik Fakhrud din Ath-thoroiyhi dalam Majmail Bahrain dalam hadis Munajat Nabi Musa a.s. saat dia bermunajat :’Ya Robbi apa yang menyebabkan kemuliaan ummatnya Nabi Muhammad melebihi ummat yang lain”.?

Allah Swt Bersabda: ”Mereka dimuliakan karena 10 perkara.” Musa bertanya,” Apakah gerangan hal tersebut hingga daku akan menyuruh bani Israil mengerjakannya.”

Allah Swt menjawab 10 hal tersebut adalah : 1. Sholat. 2. Zakat. 3. Puasa. 4. Haji. 5. Jihad. 6. Jum’at. 7. Jama’ah. 8. Al-Qur’an. 9. Ilmu. 10. Asyuro.

Kemudian Musa a.s. bertanya apakah Asyuro itu? Allah Swt menjawab : ”Tangisan dan berusaha menangis, untuk cucu Nabi Muhammad saw serta mengadakan acara berduka buat mengenang musibah putra Al-Musthofa.

Ya Musa siapapun dari hambaku pada zaman tersebut menangis atau berusaha menangis dan berduka atas putra Al-Musthofa maka wajib atasnya masuk surga, menetap disana.

Dan siapapun yang menginfakkan hartanya dalam rangka mencintai putra dari putrinya Nabi saw atau membuat makanan atau apapun berupa uang maka Aku akan memberkahinya di dunia uangnya tersebut dengan 70 kali lipat dan akan dilipat gandakan lagi di surga serta akan diampuni dosa-dosanya”.

Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku siapapun baik lelaki maupun perempuan yang mengalirkan air matanya di hari Asyuro walau dengan hanya setetes maka akan dicatat pahalanya bagaikan 100 orang yang syahid.”

Diriwayatkan ; ’Ketika Nabi saw memberi kabar kepada putrinya Fathimah a.s. tentang berbagai musibah yang akan menimpa anaknya Husein a.s. hingga terbunuhnya. Fathimah menangis dengan tangisan yang memilukan.

Kemudian bertanya; wahai Ayah, kapan hal itu akan terjadi. Beliau saw menjawab di suatu zaman yang saat itu sudah tidak ada aku dan engkau juga Ali a.s., maka bertambahlah tangisan Fathimah a.s.

Kembali Sayyidah Fathimah a.s. bertanya;’ Siapakah nanti yang akan menangisinya dan siapa yang akan mengucapkan belasung kawa atasnya.

Nabi saw menjawab ;’Wahai Fathimah a.s. sesungguhnya wanita ummatku nanti yang akan menangisi wanita ahlu baytku sedangkan yang laki-laki akan menangisi laki-laki ahlu baytku yang selalu mengucapkan berbelasungkawa, (mengadakan acara aza’) setiap tahunnya hal itu akan terus berlangsung setiap generasi demi generasi. Ketika tiba hari kiamat engkau akan memberikan syafaat untuk kaum wanita dan aku akan memberikan syafaat untuk kaum lelaki dan setiap yang menangis atas musibah Husein a.s. aku yang akan mengangkat nya dan memasukkan nya ke surga.

Wahai Fathimah setiap mata akan menangis di hari kiamat kecuali mata yang menangisi musibah al-Husein dia akan tersenyum dengan senyum membahagiakan karena akan mendapat kan kenikmatan-kenikmatan surga. (Al-Bihâr, juz 44, hal 293)

Diriwayatkan dari Imam Ridho a.s. :’Kejadian semisal Husein a.s. hendaklah menangislah bagi yang hendak menangis, karena tangisan untuknya akan menggugurkan dosa- dosa besar, kemudian beliau melanjutkan ; ketika bulan Muharom tiba Ayahku tidak kelihatan tertawa seakan ada yang mengalahkannya hingga sepuluh hari, ketika tiba hari kesepuluh, hari musibahnya dan kesediha nya serta tangisannya, inilah hari terbunuhnya Husein a.s. (Wasâil syîah, juz 14, hal. 505)

Diriwayatkan dari Kitab Wasail juz 14 halaman 503. Diriwayatkan dari Ali bin Ibrahim bin Hasyim dari Ayahnya dari Zayyan bin Syabib dari Imam Ridho a.s. : ”Wahai putra Syabib bila engkau menangis terhadap sesuatu maka tangisilah Husein bin Ali a.s. karena dia disembelih bagaikan disembelihnya kambing dan dibunuh bersamanya keluarganya sebanyak 18 orang yang tidak ada lagi yang menyerupainya di bumi ini, dan telah menangis 7 lapis langit dan bumi karena terbunuhnya. Duhai putra Syabib bila engkau menangisi Husein a.s. hingga mengalir air matamu hingga ke dagumu maka Allah Swt akan mengampunimu dari semua dosamu baik yang kecil atau yang besar, banyak atau sedikit.

Wahai putra Syabib bila engkau akan ingin berjumpa dengan Allah azza wajalla dengan tanpa dosa yang kau bawa maka ziarahilah Husein a.s.

Wahai putra Syabib bila engkau akan bebas mendatangi kamar-kamar surga dan menjumpai Nabi saw dan bersamanya maka berlepas dirilah dengan yang membunuh Husein a.s.

Wahai putra Syabib bila engkau mengingini pahala orang yang syahid bersama Husein a.s maka ucapkanlah saat engkau mengingat peristiwanya : yâ laitanî kuntu ma’ahum fa afûza fauzan azhîmâ.

Wahai putra Syabib bila engkau akan bebas bersamaku di derajat yang utama dari surga maka bersedihlah saat kesedihan kami dan bergembiralah saat kegembiraan kami hendaklah engkau berwilayah kepada kami bila seseorang yang mencintai batu maka dia akan dibangkitkan oleh Allah Swt bersamanya di hari kiamat kelak”.

Salam atas mu wahai Aba Abdillah, Salam atas mu wahai putera Rasulullah, Salam atasmu wahai putera Amirul Mukminin, Salam atasmu wahai putra Fathimah penghulu wanita sedunia, Salam atasmu wahai Tsârollah wabna tsârih wal witrul mawtûr, Salam atasmu dan para arwah yang berada di halamanmu, Salam dari kami untuk semua, akan selalu kami ucapkan Salâmullâh atasmu sepanjang hidup kami dan sekekal siang dan malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s