PASCA SYAHADAH (1) 

inilah gambar ilustrasi imam hussein as yang di bantai oleh pasukan umar bin sa’ad alaihi lanat 

Ibnu Sa’ad sendiri melewatkan hari itu di Karbala. Tengah hari berikutnya, ia bersama keluarga Al-Husain as. yang masih tersisa bergerak meninggalkan tempat itu. Para wanita ia tempatkan di atas unta tanpa alas dan atap. Wajah-wajah mereka menjadi tontonan para musuh Allah. Padahal mereka adalah pusaka Nabi yang paling mulia. Mereka digiring bagai tawanan perang dari Turki atau Rumawi dengan menanggung segala duka dan nestapa.

Sungguh tepat penyair yang berkata:

Seorang Nabi bani Hasyim dilimpahi salawat Tapi cucunya ditawan, sungguh mengherankan.

Diriwayatkan bahwa kepala-kepala tentara Al-Husain yang berjumlah tujuh puluh delapan buah itu dibagi-bagikan di antara beberapa kabilah. Tujuannya adalah supaya mereka semua mendapat sedikit hadiah dari Ubaidillah bin Ziyad dan Yazid bin Mu’awiyah.

Bani Kindah datang dengan membawa tiga belas buah kepala, dipimpin oleh Qais bin Asy’ats Bani Hawazin membawa dua belas buah kepala diketuai oleh Syimr bin Dzil Jausyan.
Bani Tamim membawa tujuh belas buah kepala.
Bani Asad membawa enam belas buah kepala. Bani Midzhaj membawa tujuh buah kepala. Dan orang-orang yang lain membawa tiga belas buah kepala.

Perawi berkata: Setelah Ibnu Sa’ad meninggalkan Karbala, sekelompok orang dari Bani Asad datang dan mensalati jasad-jasad suci yang bersimbah darah tersebut lalu menguburkannya di tempat yang ada sekarang ini.

Ibnu Sa’ad berjalan dengan tawanan Karbala. Ketika sampai di dekat kota Kufah, penduduk kota berduyun-duyun datang menonton tawanan yang sebenarnya adalah keluarga nabi mereka sendiri.

Perawi berkata: Seorang wanita Kufah dari atas atap bertanya, “Tawanan dari manakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah keluarga Nabi Muhammad saw. yang menjadi tawanan.”

Mendengar itu, sang wanita langsung turun dan mengumpulkan kain, selendang dan kerudung yang ada lalu memberikannya kepada mereka. Dengan demikian, mereka kini dapat menutup badan mereka dengan sempurna.

Perawi berkata: Di antara para tawanan terdapat Ali bin Al-Husain as. yang kala itu sedang sakit sehingga kelihatan lemah. Juga Hasan bin Al-Hasan Al-Mutsanna yang dengan penuh ketabahan membela paman dan imamnya, hingga menderita cukup banyak luka di tubuhnya. Zaid dan ‘Amr, keduanya putra Al-Hasan as., juga bersama mereka.

Penduduk Kufah larut dalam ratapan dan tangisan. Ali bin Al-Husain as. berkata kepada mereka, “Kalau kalian meratapi dan menangisi kami, lalu siapa yang membantai kami?”

Basyir bin Khuzaim Al-Asadi berkata: Aku melihat Zainab binti Ali as. saat itu. Tak pernah kusaksikan seorang tawanan yang lebih piawai darinya dalam berbicara. Seakan-akan semua kata-katanya keluar dari mulut Amirul Mukminin Ali as. Beliau memberi isyarat agar semuanya diam. Nafas-nafas bergetar. Suasana menjadi hening seketika. Beliau mulai berbicara:

“Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam atas kakekku Rasulullah Muhammad saw. dan keluarganya yang suci dan mulia.

Amma ba’du. Wahai penduduk Kufah! Wahai para pendusta dan licik. Untuk apa kalian menangis? Air mata ini tak akan berhenti mengalir. Tangisan tak akan cukup sampai di sini. Kalian ibarat wanita yang mengurai benang yang sudah dipintalnya dengan kuat hingga bercerai-berai kembali. Sumpah dan janji setia kalian hanyalah sebuah makar dan tipu daya.

Ketahuilah, wahai penduduk Kufah! Yang kalian miliki hanya omong kosong, cela dan kebencian. Kalian hanya tampak perkasa di depan wanita tapi lemah di hadapan lawan. Kalian lebih mirip dengan rumput yang tumbuh di selokan yang berbau busuk atau perak yang terpendam. Alangkah kejinya perbuatan kalian yang telah membuat Allah murka. Di neraka kelak kalian akan tinggal untuk selama-lamanya.

Untuk apa kini kalian menangis tersengguk-sengguk? Ya, demi Allah, banyaklah menangis dan sedikitlah tertawa, sebab kalian telah mencoreng diri kalian sendiri dengan aib dan cela yang tidak dapat dihapuskan selamanya. Bagaimana mungkin kalian dapat menghapuskannya sedangkan orang yang kalian bunuh adalah cucu penghulu para nabi, poros risalah, penghulu pemuda surga, tempat bergantungnya orang-orang baik, pengayom mereka yang tertimpa musibah, menara hujjah dan pusat sunnah bagi kalian.

Ketahuilah, bahwa dosa kalian adalah dosa yang sangat besar. Terkutuklah kalian! Semua usaha jadi sia-sia, tangan-tangan jadi celaka, dan jual beli membawa kerugian. Murka Allah telah Dia turunkan atas kalian. Kini hanya kehinaanlah yang selalu menyertai kalian.

Celakalah kalian wahai penduduk Kufah! Tahukah kalian, bahwa kalian telah mencabik- cabik jantung Rasulullah? Putri-putri beliau kalian gelandangkan dan pertontonkan di depan khalayak ramai? Darah beliau telah kalian tumpahkan? Kehormatan beliau kalian injak-injak? Apa yang telah kalian lakukan adalah satu kejahatan yang paling buruk dalam sejarah yang disaksikan oleh semua orang dan tak akan pernah hilang dari ingatan.

Mengapa kalian mesti keheranan menyaksikan langit yang meneteskan darah? Sungguh azab Allah di akhirat kelak sangat pedih. Di sana kalian tidak akan tertolong. Jangan kalian anggap remeh waktu yang telah Allah ulurkan ini. Sebab masa itu pasti akan datang dan pembalasan Allah tidak akan meleset. Tuhan kalian menyaksikan semua yang kalian lakukan.”

Perawi berkata: Demi Allah, aku melihat orang-orang tertegun dan larut dalam tangisan. Tangan-tangan mereka berada di mulut mereka. Aku melihat seorang lelaki tua berdiri di sampingku sambil menangis hingga janggutnya basah. Ia berkata, “Demi ayah dan ibuku, kalian adalah sebaik-baik manusia. Keturunan kalian adalah sebaik-baik keturunan. Tak ada cela dan aib pada kalian.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s