Pasca Syahadah (2)

Diriwayatkan dari Zaid bin Musa, dia berkata, “Ayahku menukilkan kepadaku apa yang dikatakan oleh kakekku as. Beliau berkata, Fatimah Sughra setelah memasuki ke kota Kufah, berpidato:
“Aku memuji Allah sebanyak butiran pasir dan kerikil, seberat ‘arsy sampai tanah. Aku memuji-Nya, beriman dan bertawakkal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku menyaksikan bahwa keluarga Nabi, pembawa rahmat itu disembelih di tepi sungai Furat dan tidak ada orang yang datang untuk menuntut darahnya.

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari melakukan kedustaan atas nama-Mu atau mengatakan atas nama-Mu hal-hal yang berlawanan dengan apa yang Kau perintahkan untuk menjaga wasiat Ali bin Abi Thalib as. Seorang yang hak-haknya dirampas lalu dibunuh di salah satu rumah Allah tanpa adanya kesalahan darinya sedikitpun -demikian juga hal yang dialami oleh putra Ali yang kemarin baru saja terbunuh-. Padahal di sana ada sekelompok orang yang di lisannya mengatakan bahwa mereka orang muslim dengan kepala yang tertunduk. Mereka tidak melindunginya dari kezaliman di masa beliau hidup maupun setelah kepergiannya. Sampai Engkau mengangkatnya ke sisi-Mu dengan jiwa yang mulia dan ruh yang suci.

Keutamaannya dikenal dan sikapnya ramai dipergunjingkan orang. Tak pernah ia gentar dalam menghadapi cacian dan cemoohan orang, dalam mencari ridha-Mu. Engkau bimbing ia menuju Islam kala ia masih kanak-kanak. Dan ketika telah menginjak usia dewasa, Kau bekali ia dengan segala keutamaan.

Dia selalu mengharap ridha-Mu dan ridha Rasul-Mu sampai Kau panggil ia menghadap-Mu. Hidupnya penuh dengan kezuhudan dan tidak pernah berlomba untuk mencari dunia. Hanya akhiratlah yang ia harapkan. Dia selalu berjuang di jalan-Mu. Sehingga Engkau meridhainya dan memilih serta membimbingnya ke jalan-Mu yang lurus.

Ammu ba’du. Hai ahli Kufah! Hai para penipu, orang-orang yang licik dan congkak! Kami Ahlul Bait kini tengah diuji oleh Allah hingga berhadapan dengan orang-orang seperti kalian. Dan Allah pun tengah menguji kalian dengan kami. Kami berhasil melalui ujian dengan hasil yang memuaskan. Sebagai ganjarannya Allah menganugerahi kami ilmu dan hikmah-Nya. Kamilah pemegang ilmu dan hikmah-Nya. Kamilah hujjah Allah atas seluruh penduduk bumi ini. Dialah yang telah memuliakan kami dengan kemurahan-Nya dan mengutamakan kami atas semua mahluk-Nya dengan menjadikan Muhammad, Nabi dan kekasih-Nya, dari golongan kami.

Tapi kalian malah mendustakan kami dan memperlakukan kami seperti memperlakukan orang-orang kafir. Kalian menganggap darah kami halal untuk ditumpahkan dan harta kamipun layak untuk dirampas. Seakan-akan kami ini orang-orang Turki atau Kabul. Hal seperti ini sudah pernah kalian lakukan terhadap kakek kami dahulu. Pedang-pedang kalian masih basah dengan darah kami, Ahlul Bait. Perbuatan kalian itu timbul karena dendam dan kedengkian kalian terhadap kami.

Kini kalian bersuka cita dan hati kalian berbunga-bunga. Sungguh yang kalian lakukan adalah suatu kedustaan besar atas nama Allah dan tipu daya akbar. Tapi ketahuilah bahwa Allah sebaik-baik yang berbuat makar dan tipu daya.

Jangan buru-buru terbawa rasa senang oleh apa yang kalian lakukan dengan menumpahkan darah dan merampas harta kami. Sebab semua musibah dan derita yang kami alami sudah termaktub di Kitab, sebelum Allah menciptakan mahluk-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Supaya kalian tidak kecewa karena hilangnya kesempatan atau bergembira atas apa yang kalian dapatkan. Allah tidak menyukai orang yang sombong dan congkak.

Celaka kalian! Tunggulah datangnya kutukan dan azab yang akan segera turun atas kalian! Bencana dari langit akan datang bertubi-tubi. Kalian akan segera ditimpa azab. Kalian akan saling berperang satu sama lain. Lalu akan masuk ke neraka dengan siksaannya yang pedih di hari kiamat kelak, sebagai balasan atas kezaliman yang kalian lakukan terhadap kami. Ingatlah bahwa kutukan Allah pasti akan jatuh pada orang-orang zalim.

Celaka kalian! Tahukah apa yang telah kalian lakukan terhadap kami? Siapakah yang kalian bunuh? Kaki manakah yang kalian gunakan untuk maju memerangi kami?

Demi Allah, hati kalian telah berubah keras bagai batu. Perasaan kalian telah pekat. Hati kalian pun terkunci. Pendengaran dan penglihatan kalian telah tertutupi. Setan telah bermain- main dengan kalian, mendikte dan menutupi pandangan kalian. Karena itu, kalian telah menjadi sangat jauh dari hidayah Ilahi.

Celaka kalian, hai Ahli Kufah! Tahukah kalian hutang apa yang mesti kalian bayar pada Rasulullah saw.? Darah siapakah yang kalian tumpahkan dengan melawan saudaranya, Ali bin Abi Thalib as., kakekku, juga anak-anaknya dan keluarga Nabi yang suci? Lalu seorang dari kalian dengan bangga mengatakan:

Kami telah bunuh Ali dan anak-anak Ali
Dengan pedang Hindun dan seperangkat tombak

Kami tawan wanita mereka bak tawanan Turki Kami bantai mereka dengan kemenangan telak

Semoga mulut itu menjadi sasaran hujan batu! Apakah kau bangga membantai mereka yang telah Allah sucikan dan bersihkan dari noda dan dosa sesuci-sucinya. Tunggu dulu! Jongkoklah kau seperti ayahmu berjongkok, karena semua orang akan mendapatkan segala ganjaran dari apa yang telah diperbuatnya.

Atau mungkin kalian iri dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepada kami ? Celakalah kalian!
Apa dosaku jika lautku penuh air

Sedang lautmu kering, tak menutupi cacing laut

Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah, Zat dengan karunia ynag agung. Siapa saja yang tidak Dia beri cahaya, tak akan mendapat cahaya”.

Suara tangisan meledak. Mereka berkata, “Cukuplah wahai putri orang-orang suci! Anda telah membakar hati kami, menyesakkan dada dan mengobarkan perasaan kami.” Beliaupun diam.

Giliran Ummu Kultsum binti Ali as. berpidato di hari itu dari belakang tabir yang menutupinya. Dengan suara parau dan isak tangisnya, ia berkata,

“Hai Ahli Kufah! betapa kejinya perbuatan kalian! mengapa kalian sampai menghinakan Al- Husain dan membunuhnya, merampas harta, menawan keluarga dan menyakitinya? Celaka dan terkutuklah kalian!

Tahukah kalian siapakah orang-orang yang memperdaya kalian? Dosa apakah yang kalian pikul di pundak kalian? Darah siapakah yang kalian tumpahkan? Siapakah wanita mulia yang kalian zalimi? Siapakah putri kecil yang kalian rampok? Harta apakah yang kalian rampas? Kalian telah membunuh sebaik-baik lelaki setelah Rasulullah saw. Rasa belas kasihan telah sirna dari hati kalian. Ingatlah bahwa tentara Allah akan menang dan tentara setan akan merugi !”

Kemudian beliau melanjutkan:

“Kalian bunuh saudaraku yang tabah, celakalah kalian Neraka dengan api berkobar adalah tempat kalian Kalian tumpahkan darah yang telah Allah haramkan Al-Quranpun melarangnya, juga Muhammad Bergembiralah dengan api neraka, sebab kalian esok Akan berada di dalamnya dengan panas yang sangat Aku hidup menangisi dan meratapi saudaraku Sebaik-baik manusia setelah Nabi sampai hari akhir Air mata tak kunjung reda meski telah kuhapus Membasahi pipi terus menerus tanpa henti”

Perawi berkata: Orang-orang riuh dengan tangisan, raungan dan ratapan. Para wanita menguraikan rambut mereka, menaburkan pasir di kepala, memukuli wajah, menampar pipi dan memanjatkan kutukan dan laknat atas para durjana. Sedangkan para lelaki menangis dan menarik-narik janggut mereka. Demi Allah, aku tak pernah menyaksikan orang sebanyak itu menangis bersama-sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s