Perang Kebenaran Melawan Kesesata

 Ilustrasi kemah sahabat dan keluarga imam hussein di karbala


Perang kebenaran melawan kesesatan pun dimulai. Satu per satu insan salih dari kubu Imam Husain turun ke medan dan mempersembahkan nyawanya setelah memperlihatkan keberanian, heroisme dan kompetensi. Dahaga, lapar, panas dan cidera nampak tak mempengaruhi kesabaran, kekuatan dan tekad para pengikut dan pendukung Husain. Pada akhirnya, ketika si penipu dan pendusta Ibnu Sa’ad menyaksikan pertempuran, dia terkejut bahwa ternyata satu per satu pengikut Imam Husain dengan mudahnya menghancurkan berlusin-lusin musuh sebelum pada akhirnya roboh. Para pengikut Imam Husain ternyata tak bisa dikalahkan.
Karena itu Ibn Sa’ad mengeluarkan perintah untuk melakukan serangan mendadak, meskipun dengan perintah ini lbnu Sa’ad berarti menginjak-injak kesepakatan yang dibuatnya sendiri pada malam sebelumnya. Keberanian, heroisme dan kompetensi yang diperlihatkan oleh para pendukung salih jalan suci, kepasrahan tiada tara kepada kehendak Allah, dan dedikasi sempurna serta kesetiaan ideal pendukung salih kepada Imam Husain dan jalan suci kebenaran secara menakjubkan mampu menenggelamkan tentara setan dan para perwira mereka, meskipun saat itu para pendukung salih Imam Husain tengah didera kelaparan dan kehausan.

Pasukan kesesatan terpana melihat kekuatan menakjubkan dan heroisme tiada tara pasukan Imam Husain, sehingga pasukan musuh mulai ketakutan untuk berhadapan dengan pengikut Imam Husain yang turun ke medan tempur sendirian dan roboh di jalan Allah.

Maka ketika seorang pendukung jalan suci berhadapan dengan tentara setan dan kemudian roboh, Imam Husain segera mengambil raganya dan dimasukkan ke dalam kemah yang dibuat khusus untuk para syuhada. Sementara pertempuran melawan kekuatan setan berlangsung, dan pendukung kebenaran roboh satu per satu, kemah yang berisi raga-raga syuhada itu pun berubah menjadi “Gudang Syuhada”.

Zainab Mengirimkan Dua Putranya yang Masih Sangat Muda Usia

Ketika satu per satu pendukung Imam Husain bertempur dan roboh demi membela Keluarga Suci, adik perempuan Imam Husain, Zainab, memanggil dua putranya yang masih sangat muda usia, Aun dan Muhammad yang masing-masing berusia 10 dan 9 tahun, yang saat itu tengah bersama Imam Husain, dan bertanya kepada mereka, “Maut telah menjemput banyak pendukung Imam Suci, sementara engkau masih hidup?”

Anak-anak itu pun mengatakan, “Bunda Kami hanya menunggu izin dari Imam Suci, kini mintakan izin kepadanya, Bunda! Dan kemudian lihatlah apa yang akan dilakukan dua abdimu ini.”

Zainab segera memanggil kakaknya, Imam Husain, memohon dengan sangat agar dua putranya diizinkan untuk turun ke medan tempur. Imam Husain tak bisa berkata tidak kepada adiknya. Dua anak ini pun turun ke medan tempur, dan kemudian roboh sebagai syuhada. Husain dan Abbas mengambil dan membawa raga syuhada muda ini ke dalam kemah Zainab. Zainab menghampiri dua raga putranya, dan kemudian berkata, “Anak-anakku sayang! Sekarang aku senang karena kalian telah memperlihatkan kualitas kalian dan mempersembahkan nyawa kalian untuk Kebenaran, dan telah membuat senang Allah dan Nabi Suci-Nya.”

Qasim, Putra Hasan

Ketika Qasim yang berusia 14 tahun, putra Imam Hasan, minta izin untuk turun ke medan tempur, Husain, menurut riwayat, teringat keinginan almarhum kakaknya, Hasan, yang menghendaki putranya, Qasim, menikah dengan salah satu putrinya. Pada saat bersamaan Qasim menyerahkan kepada Imam Husain sebuah surat eksklusif yang ditulis dan diberikan kepadanya oleh ayahandanya. Surat itu baru boleh dibuka bila bencana paling buruk menimpanya. Dalam surat itu dikatakan:

“Putraku sayang, Qasim! Ketika pamanmu, Husain, diblokade oleh musuh-musuhnya dari berbagai penjuru, dan ketika setiap pencinta sejati Allah dan Nabi Suci mempersembahkan nyawanya demi membela jalan Kebenaran, maka atas namaku korbankan dirimu untuk jalan Kebenaran.”

Imam Husain mencium surat almarhum kakaknya. Menurut riwayat, Husain menikahkan putrinya yang bernama Fatimah Kubra dengan Qasim. Dan segera setelah pernikahan, Qasim meminta izin kepada pamannya dan kemudian bergegas ke medan tempur. Dan setelah menewaskan lima prajurit kondang pasukan setan (Azrag dan empat putranya), Qasim roboh dari kudanya. Sebelum Husain berhasil menolong Qasim yang berteriak minta tolong, seluruh kafilah setan sudah duluan menginjak-injak tubuh Qasim.

Abbas sang Pemberani Sang Pembawa Bendera Kebenaran

Ketika Abbas, putra Ali bin Abi Thalib, turun ke medan tempur, aksinya sangat mirip sekali dengan aksi tempur ayahandanya, Ali sang Singa Allah. Aksi tempur Abbas tak pernah bisa digambarkan dengan satu atau dua buku. Anis dan Dabir, dua penyair Urdu kondang, dengan indahnya telah menggambarkan aksi tempur Abbas ketika berhadapan dengan pasukan setan. Kekuatan, keberanian, heroisme, efisiensi, kepiawaian, dedikasinya kepada jalan kebenaran, dan kesetiaannya kepada Imam Husain, eksklusif dan luar biasa dalam sejarah dunia. Karena aksi dan energi luar biasa si Berhati Singa putra si Singa Allah, banyak pasukan setan yang roboh.

Setelah sebuah pertempuran yang dahsyat, Abbas sampai di tepi sungai dan mengisikan air ke dalam kantung untuk anak-anak yang dicekam dahaga di kamp
Husain namun tak pernah merasakan setetes air pun. Penyair itu mengatakan:

Ketika Junjunganku
Imam Suci beserta anak-anaknya
yang tak berdosa kehausan
mana mungkin Abbas merasakan air ini.

Ketika Abbas dalam perjalanan kembali dari sungai dengan memanggul kantung berisi air, Abbas mendapat serangan dari berbagai arah, dan pada akhirnya Abbas roboh dekat tepi sungai. Dan Abbas kehilangan kedua tangannya ketika mendapat serangan dari seorang musuh yang menyerangnya dari tempat persembunyian.

Kesyahidan Ali Akbar

Setelah Abbas, tiba giliran Ali Akbar untuk turun ke medan tempur. Riwayat menyebutkan bahwa anak yang berusia 18 tahun ini sedemikian disayangi oleh semua penghuni kamp sehingga kisah tentang Ali Akbar yang pergi meninggalkan ibundanya, bibi-bibinya, saudara- Saudara perempuan dan laki-lakinya, dan sanak famili lainnya begitu membangkitkan rasa iba sehingga siapa pun yang mendengar peristiwa yang mengoyak-ngoyak hati ini pasti dia akan berkaca-kaca matanya. Pada akhirnya, ketika Imam Husain mengirim Ali Akbar, Ahmad Tsani (Muhammad Kedua), ke medan tempur, Imam menengadahkan kepalanya ke langit sembari berkata,

“Ya Tuhan! Inilah orang yang sangat menyerupai Nabi- Mu Muhammad, dia dikirim di jalan-Mu. Bila kami ingin melihat Wajah Suci yang sudah pergi meninggalkan kami, kami selalu melihat ke wajah anak muda ini. “Ya Tuhan! Husain memiliki satu Ali Akbar, dan dia dikirim untuk berkorban di jalan-Mu. Seandainya aku memiliki banyak lagi seperti dia, tentu aku juga akan persembahkan mereka semua di jalan-Mu.”

Apakah persembahan ini tidak lebih dapat diterima oleh Allah ketimbang persembahan Ibrahim yang mengorbankan putranya dengan kedua mata ditutup? Apakah ini bukan Pengorbanan Lebih Agung bila dibandingkan dengan pengorbanan Ismail?

Ketika Ali Akbar turun ke medan tempur, pasukan setan diriwayatkan begitu terpana melihat kemiripan Ali Akbar dengan Nabi Suci saw sehingga di antara pasukan setan itu yang sebelumnya pernah melihat Nabi Suci saw bertanya-tanya dalam hati apakah Nabi Suci saw datang kembali ke dunia ini untuk membantu cucu kesayangannya, Husain. Orang-orang ingin sekali melihat kerupawanan memesona pemuda ini sehingga orang- orang yang ada di belakang barisan musuh pada naik ke kuda dan unta, bahkan berdiri di atas punggung kuda dan unta untuk melihat kerupawanan tiada tara dan luar biasa putra Imam Husain ini.” Tetapi kemudian terjadi serangan pengecut, dan Ali Akbar pun roboh ditembus lembing di bagian dadanya.

Dan kejadian ini sudah dinubuatkan sebelumnya oleh Imam Husain. Hanya Allah yang tahu bahwa Imam Husain memiliki hati yang begitu sabar, sehingga Imam Husain tak pernah menyerah atas putus asa dalam menghadapi bencana, sekalipun bencana itu berupa kehilangan putra seperti itu. Imam Husain memandangi putranya yang tengah sekarat di hadapan matanya. Dan kemudian dengan menengadahkan kepala ke langit, Imam Husain berkata, “Ya Tuhan! Sangat cukup bagi Husain-Mu jika Engkau terima korban ini dan jika Engkau ridhai persembahan bersahaja ini.”`

Husain Bertempur Seorang Diri

Ketika semua pendukung Imam Husain sudah terbunuh, dan di pihak Imam Husain sudah tak tersisa lagi pendukung, Imam Husain pun kini bertempur sendirian dengan kepala bersandar pada lembing dan pakaian basah kuyup bukan saja oleh darahnya sendiri melainkan juga oleh darah putra, saudara-saudara, kemenakan- kemenakan laki-laki dan para pendukungnya, sementara di kanan, depan dan belakangnya semuanya pa- sukan setan.

Bayi Ali Asghar Turun ke Medan Tempur Saat Imam Husain yang sangat membutuhkan per-tolongan itu berjuang sendirian di medan tempur yang sudah dikepung oleh musuh-musuh, Imam Husain dipanggil oleh sebuah suara teriakan adik perempuannya, Zainab, yang berada di kampnya. Ketika Imam Husain masuk ke kemah, Imam Husain melihat bayinya, Ali Asghar, tengah sekarat kehausan di buaiannya, sementara sang ibundanya, yang air susunya sudah kering akibat kehausan dan kelaparan yang terus-menerus mendera selama tiga hari, tak bisa menolong bayinya walau dengan setetes air susunya.

Setelah mengatakan kepada sang ibunda bahwa dirinya akan memperlihatkan si bayi kepada musuh dan akan minta air untuk si bayi jika mereka mau memberinya, Husain membawa si bayi ke medan tempur, dan dengan naik unta serta mengangkat si bayi tinggi-tinggi dengan kedua tangannya agar pasukan musuh bisa melihat si bayi, Husain berkata, “Saudara-saudara! Jika kalian anggap Husain berdoa dan melanggar hukum, maka bayi ini sama sekali tidak berbuat apa-apa sehingga melukai siapa pun di antara kalian. Bayi ini bahkan belum bisa bicara, bahkan belum bisa mengucapkan sepatah kata pun yang anti terhadap kalian atau Amir kalian di Damaskus. Ia tengah sekarat karena kehausan. Sudah tiga hari ini ia tak bisa menetek dan tak bisa minum air. Sudikah kalian memberikan beberapa tetes air untuk meredakan dahaganya? Jika kalian curiga jangan-jangan airnya nanti aku minum sendiri, biarlah bayi ini aku tinggalkan di sini, jika kalian mau, dan kemudian kalian kembalikan setelah dahaganya terpakai.”

Riwayat menyebutkan bahwa kata-kata Imam Husain dan pemandangan yang ada, dengan bayi tak berdosa dalam pegangan kedua tangannya, begitu menggugah rasa simpati dan membuat sedih di hati sehingga personil-personil pasukan setan pun tak kuat menahan tangis mereka dan mengutuk si setan dan wakilnya lbnu Ziyad, si gubernur Irak, yang memaksa rnereka,untuk menghancurkan insan-insan suci yang tak berdaya se- perti itu. Ibnu Sa’ad, karena takut pasukannya akan memberontak akibat bersimpati kepada Imam Husain, segera memerintahkan seorang sadis berhati batu bernama Harmalah untuk menjawab kata-kata Husain. Si tiran ini menembakkan sebuah anak panah bercabang tiga dari busurnya ke arah Husain. Anak panah si tiran ini mengenai tangan Husain hingga tembus ke leher mungil si bayi tak berdosa. Darah mengalir dari leher, dan sembari memandangi wajah ayahandanya, si bayi tersenyum dan kemudian berhenti bernapas untuk selamanya. Husain mengumpulkan darah yang mengalir dari leher mungil si bayi yang ada di tangannya. Riwayat menyebutkan bahwa ketika Husain ingin menaruh darah si bayi ke tanah, maka dari tanah terdengar oleh Imam Husain sebuah suara, “Wahai Imam Suci! Aku tak kuasa memikul darah tak berdosa ini.” Dan ketika Husain ingin melemparkan darah si bayi ke atas ke arah langit, Husain mendengar sebuah suara, “Wahai Imam Suci! Jangan lemparkan darah tak berdosa ini ke arahku karena aku tak kuasa menanggungnya.”

Seorang penyair Urdu menuturkan peristiwa ini dalam bentuk puisi:

Inkar aasma ko hai, Razi Zami nahi Asghar Tumhare Koon ka thikana Kahi nahi.

(Langit menolak dan bumi tak setuju,

Wahai Ali Asghar, darahmu tak punya tempat di dunia ini).

Riwayat menyebutkan bahwa Imam Husain melumuri wajahnya dengan darah si bayi tak berdosa.

Husain tak sanggup mengembalikan jenazah si bayi kepada ibundanya. Dan ibunda si bayi saat itu tengah gelisah menunggu bayinya di pintu kemahnya di kamp. Karena itu Husain duduk untuk memakamkan bayi laki-lakinya di dalam pasir gurun yang membara. Apakah satu korban ini belum cukup untuk menggugah rasa iba dan simpati hati setiap manusia? Apakah kita tak dapat menyebut satu korban ini lebih penting dibanding korban yang dipersembahkan oleh Ibrahim? Hanya Allah saja yang tahu derajat kesabaran, ketabahan, keuletan dan kegigihan yang Dia anugerahkan dalam diri Imam Husain untuk menghadapi serangkaian bencana luar biasa berat seperti itu.

Utusan dari Madinah

Menurut riwayat, ketika Imam Husain tengah sibuk menggali sebuah kuburan untuk si bayi syahid itu, di gurun yang panasnya membara, dengan pedangnya, seorang penunggang unta datang dan menyalami Imam. Imam mengangkat kepalanya yang cidera dan kemudian memandang ke arah si penunggang unta. Imam merasa heran ternyata masih ada orang yang menyalaminya di negeri yang memusuhi dirinya ini pada saat yang sangat menakutkan dan sangat sulit ini. Si penunggang unta ini adalah seorang utusan. Dia membawa sepucuk surat dari Fatimah Sughra, putri Imam Husain. Fatimah ditinggalkan Imam di rumahnya di Madinah. Saat itu Fatimah tengah sakit. Dalam surat itu Fatimah minta Imam untuk segera pulang atau untuk mengutus Ali Akbar, saudara laki-laki Fatimah, atau Qasim, sepupu Fatimah, atau Abbas, paman Fatimah untuk membawa dirinya kepada Imam.

Namun yang paling menyedihkan adalah permintaan Fatimah kepada ayahandanya untuk mencium Ali Asghar, saudara laki-laki Fatimah, padahal saat itu Ali Asghar baru saja dimakamkan oleh Imam Husain. Imam Husain tak bisa menahan tangisnya, lalu mencium jenazah si bayi atas nama saudara perempuan sibayi yang berada di Madinah dan mengatakan, “Asghar sayang!

Saudara perempuanmu mengirimkan ciumannya untuk mu.” dan kemudian kepada si utusan, Imam Husain berkata, “Saudarakul Bersaksilah, bahwa aku telah mangabulkan permintaan itu dan telah mencium Asghar di hadapanmu.”

Husain mengambil surat itu dan membacakannya keras-keras kepada saudara-sudaranya, putranya, dan kemenakan-kemenakannya yang tergolek syahid, karena dalam surat itu ada salam untuk mereka. Dan dengan berpaling kepada si utusan, Husain berkata, “Persaksikan olehmu, Wahai Saudaraku! Bahwa aku juga telah sampaikan pesannya kepada yang bersangkutan.”

Si utusan terperanjat, berduka dan terheran-heran. Ketika si utusan minta jawaban, Husain baru berpikir harus berkata apa untuk menjawab surat itu, ketika mendadak sebuah anak panah dari barisan musuh meluncur mengenai dahinya dan darah mulai menetes dari lukanya. Husain mengambil beberapa tetes darah di surat dan mengembalikan surat kepada si utusan seraya berkata, “Saudaraku! Kembalilah Anda ke Madinah dengan membawa jawaban ini. Dan jika putriku bertanya kepada Anda tentang aku, katakan saja apa yang telah Anda saksikan, dan atas namaku suruhlah dia untuk bersabar.

“Namun segeralah Anda pergi jauh-jauh berada di luar jarak dengar Anda, karena segera aku akan mengeluarkan seruan terakhirku untuk minta bantuan di jalan Tuhan, barangsiapa mendengar seruanku, dia wajib meresponnya. Agar Anda tidak mendengarnya, karena kalau mendengar maka Anda wajib memenuhi seruan samawi ini sehingga Anda tak bisa pulang ke Madinah tanpa menjadi seorang kafir. Pergilah jauh-jauh, Wahai Saudaraku! Semoga Allah bersama Anda.”

Dalam keadaan sangat terheran-heran dan sedih, si utusan itu pun pergi meninggalkan padang pembawa maut ini dengan menangisi kondisi menyedihkan Insan Suci ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s