Perpisahan Terakhir

Detail-detail tentang perpisahan terakhir Imam Suci dari wanita-wanita, anak-anak dan penghuni lain kampnya, khususnya dari saudara-saudara perempuannya seperti Zainab dan Ummu Kultsum, sangat menyayat hati dan tak mungkin untuk menggambarkan seluruh kejadian menyedihkan dalam satu atau dua paragraf buku kecil seperti ini. Imam Husain pada akhirnya berpamitan kepada seluruh penghuni kampnya.
Dalam kesempatan ini Imam menuturkan tentang bencana yang tengah mengintai dan menanti mereka setelah dirinya menemui kesyahidan. Imam juga menasihati seluruh penghuni kamp untuk bersabar. Kepada Zainab, adik perempuannya, Imam mendesak khususnya untuk menghadapi setiap kesulitan dan derita dengan kesabaran ekstra dan untuk tidak mengutuk musuh, karena kutukannya akan membuat orang-orang mendapat murka Allah dan apa yang sudah Imam lakukan dengan kesabaran dan ketabahan sedemikian rupa akan hancur.

Husain Menyerahkan Tanggung Jawab Imamah

Ali, putra sulung Husain yang dikenal dengan nama Zainal Abidin, tengah terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur. Husain menghampirinya dan menyerahkan tanggung jawab jabatan suci imamah kepadanya. Husain menguraikan berbagai kesulitan dan derita yang akan menimpanya segera setelah dirinya syahid, dan menasihatinya untuk luar biasa sabar dan tabah dalam menghadapi setiap agresi dan penindasan yang akan menimpanya dan menimpa orang-orang yang disayanginya, dan untuk tidak sekali-kali uring-uringan, marah, atau mengutuk orang-orang.

Nasihat Perpisahan untuk Zainab dan Ummu Kultsum

Kepada Zainab dan Ummu Kultsum, dua adik perempuannya, Husain berkata, “Kamp kita akan dijarah dan dibakar. Setelah aku dibunuh, itulah saat dimulainya serangkaian bencana dan malapetaka yang akan mendera kalian semua. Kepala kalian akan dilucuti kerudungnya. Wahai Adik-adikku sayang! Dalam deraan derita jangan sampai kehilangan kesabaran. Hadapai setiap malapetaka di jalan Tuhan dengan kesabaran, keuletan dan ketabahan. Saudara-saudaraku tercinta, jangan sampai apa yang sudah aku lakukan jadi hancur gara-gara kalian tidak sabar.”

Imam Husain pada akhirnya turun ke medan perang setelah berpamitan kepada semua pendukung dan penghuni kampnya bahwa dirinya tak akan kembali ke kampnya, tetapi akan menikmati secawan kesya- hidan untuk memenuhi perjanjian dengan Tuhan untuk menyelamatkan dan mengamankan Kebenaran hingga akhir zaman.

Husain di Medan Tempur untuk Mempersembahkan Korban Sangat Penting bagi Kebenaran

Mula-mula Husain mengingatkan musuh-musuhnya tentang cinta kepada Allah, taat kepada Nabi Suci saw dan menjauhi dosa dan kejahatan, dan setelah itu Husain bertanya kepada mereka, “Kenapa kalian mau membunuhku?

“Apakah karena aku telah berbuat dosa atau kejahatan?

“Apakah aku telah menjarah orang? “Apakah aku telah mengganggu urusan orang?”

Semua berdiri membisu, dan tak ada seorang pun yang memberikan jawaban. Kemudian Imam Husain melanjutkan, “Kalau begitu, kenapa kalian mau membunuhku? Jawaban seperti apa yang kelak harus kalian berikan kepada Allah, dan kepada Nabi Suci pada Hari Pengadilan?”

Pasukan si setan itu pun tetap diam membisu. Kemudian Imam Husain berkata, “Kalian telah membunuh semua sahabatku, anak-anakku, saudara-saudaraku dan bahkan bayiku. Sekarang tolong tinggalkan aku, aku akan hijrah ke Yaman, ke Iran atau bahkan ke Hind (India), jangan kotori tangan kalian dengan darahku, darahku adalah darah Nabi Suci, kalian tak akan mendapatkan keselamatan. Aku tegaskan, jangan tumpahkan darahku, dan selamatkan diri kalian sendiri.”

Saran dan peringatan terakhir Imam Husain ini sangat bagus dan tiada tara. Meskipun demikian, para setan itu tak mengambil manfaatnya. Saran dan peringatan ini sesungguhnya merupakan perwujudan argumen (hujah) untuk memberikan kesempatan terakhir kepada pasukan setan serakah untuk menyelamatkan diri dari murka Allah.

Seruan Terakhir Imam Husain di Jalan Tuhan

Agar kelak tak ada orang mengatakan bahwa dirinya tak pernah diseru atau tak pernah diberi kesempatan untuk mengabdi di jalan membela kebenaran dengan membantu Imam Husain yang berjuang membela Kebenaran, Husain yang kini berdiri sendirian, dengan kepala sampai kaki berdarah-darah karena banyaknya luka yang diderita, dengan kehilangan semua orang yang dicintai, dengan memberikan saran dan peringatan terakhir yang sangat penting artinya di jalan Tuhan, dengan bayi berusia enam bulan Ali Asghar, menyampaikan seruan terakhirnya kepada umat manusia di sekitarnya, mengajak mereka untuk bergabung bersama dirinya di jalan Tuhan. Imam Husain mengatakan,

“Hal min nashirin yanshuruna? (Adakah pembantu yang sudi membantu kami?) “Hal min dzabbin yadzubbu an Harami Rasulullah?”

(Adakah pembela yang sudi memukul mundur musuh sehingga musuh tak mendekati kemah-kemah keluarga Nabi Suci?)

Ketika tak ada respon dari ribuan orang yang ada di sekitarnya, maka Husain berkata dengan suara keras:

“Alam tasma’u? Alaisa fikum Muslim?”

(Apakah kalian tidak mendengarku? Apakah tak ada seorang Muslim pun di antara kalian?)

Tetap saja tak ada respon.

Ketika Husain menyampaikan seruan terakhirnya kepada dunia di sekitarnya, mengajak orang-orang di jalan Tuhan, putra Husain yang bernama Ali Zainal Abidin yang tak bisa meninggalkan tempat tidur karena demam tinggi, dan yang tak lama sebelum menerima tanggung jawab [mamah dari ayahandanya, bangkit dan dengan bersandar pada tongkat berupaya keluar dari kemah dengan suara yang lemah, berjalan menghampiri Imam Husain seraya berkata, “Labbaik Ya Abata, Labbaik!” (Ya, iniaku, Ayah! Ini aku).

Ketika melihat putranya, Ali, yang tengah sakit keluar meninggalkan kemah dengan terhuyung-huyung sementara demamnya sangat tinggi, Husain mengatakan kepadanya, “Kembalilah, Nak! Keturunanku akan datang darimu.”

Riwayat menyebutkan bahwa menanggapi seruan dari Imam Husain, sejumlah suara sarat misteri “Labbaik! Labbaik! ” (Ya, ini kami, Wahai Putra Nabi Suci) terdengar dari alam spiritual. Imam kemudian menjawab, “Terima kasih kepada kalian semua, namun urusanku di sini dan saat ini hanyalah dengan manusia yang masih hidup di dunia fisik ini.”

Segera setelah mengatakan demikian, Imam disyahidkan oleh pasukan si setan yang mengepungnya.

Salat yang Unik dan Tiada Banding Kualitasnya

Siapapun orangnya, kalau dia sadar, pasti dia akan mengakui bahwa manusia tak mungkin memahami personalitas suci. dan agung yang mutlak ketaatannya kepada Tuhan. Dan kesucian, keagungan serta ketaatan mutlak ini diperlihatkan oleh beliau di padang Karbala.

Setelah kehilangan setiap orang yang dicintainya, termasuk putranya yang masih bayi, sementara dirinya sendiri sarat cidera dari kepala hingga kaki dengan banyak anak panah menancap di tubuh sucinya, dengan darah mengalir dari luka-luka yang ada, dan pakaiannya yang basah kuyup oleh darah, darah sahabat-sahabatnya, darah handai tolan dan sanak keluarganya, yang tubuh` tubuh kaku mereka dia pindahkan dari padang pem` bantaian ke sebuah kemah di kampnya untuk menyelamatkan mereka dari dinjak-injak oleh kaki-kaki pasukan berkuda musuh tak berperikemanusiaan, dalam kondisi lapar dan dahaga yang luar biasa selama tiga hari terakhir, Husain terlihat duduk di atas kudanya, Dzul Jinah, kadang menengadahkan wajah ke langit seraya berdoa memohon diterima korban-korbannya.

Di tengah-tengah kesengsaraan, duka dan kesedihan yang tak terlukiskan, dan di tengah kepedihan luar biasa siksaan dan penderitaan sangat berat yang menderanya, Husain senantiasa ingat Tuhan dan menjaga kepatuhannya kepada-Nya. Husain berkeinginan untuk tidak meninggalkan atau menghindari dunia. Tak ada satu pun salat yang diwajibkan oleh-Nya kepada umat. manusia di dunia ini pernah diabaikan oleh, Husain.

Kondisi Husain sedemikian rupa sehingga Husain kini tak bisa turun dari kudanya. Husain memberi isyarat kepada kudanya dan berkata, “Maukah engkau, Dzul Jinahku. berlutut sedikit agar aku bisa melorot turun? Aku tahu bukan aku saja yang lapar dan kehausan, tapi engkau juga. Maafkan aku, Dzul Jinah-ku, karena Husain tak berdaya. Semoga Tuhan memberkahimu.”

Hewan setia ini, meski lapar, kehausan dan terluka, mau merentangkan kaki-kakinya sedemikian rupa sehingga insan suci ini, salah satu bintang paling cemerlang di langit spiritualitas, dapat melorot turun.

Kini Husain terbaring di atas pasir membara gurun yang sangat panas, dengan luka-luka yang mengeluarkan darah. Karena ingin salat, Husain lalu mengumpulkan pasir di depannya dan kemudian Husain pun tenggelam dalam salat terakhirnya di muka bumi. Husain meletakkan dahinya yang terluka di atas timbunan pasir membara. Dengan demikian pada akhirnya Imam yang terluka ini berhubungan dengan Tuhan.

Pedang dan kapak mulai menghujaninya, dan Husain tergeletak penuh luka dan kepala sampai kaki, sementara darah suci Nabi Suci, Ali dan Fatimah mengalir di bumi.

Beberapa orang, satu per satu diutus oleh komandan pasukan si setan untuk memenggal kepala Imam Suci, namun setiap orang yang mendekati Imam Suci yang tergeletak di atas pasir membara, melihat kedua bibir Imam bergerak-gerak dan terdengar mengucapkan, “Wahai Tuhan alam semesta yang Maha Murah Hati, terimalah pengorbanan bersahaja Husain-Mu. Husain telah menyerahkan di jalan-Mu semua yang telah Engkau berikan kepadanya. Jika putra Nabi Suci-Mu ini masih punya sesuatu, tentu itu akan dia serahkan juga kepada-Mu. Namun, Wahai Tuhan, ampunilah orang beriman yang berbuat dosa, Wahai Yang Maha Murah Hati.”

Dan pada akhir doa terdengar, “Wahai Tuhan! Tuhan Wahai Tuhan!” Diulang-ulang beberapa kali.

Mendengar doa terakhir Husain ini, tak ada seorang pun berani memenggal kepala sucinya, sekalipun diiming-imingi hadiah ribuan koin emas dan dijanjikan hadiah lain yang sangat menggiurkan, tetapi Syimir, si sadis tak berperikemanusiaan yang berhati batu, melakukan kejahatan yang mengerikan ini.

Maka ketika kepala Imam Suci dipisahkan dari raganya, para wanita tak berdaya dan anak-anak tak berdosa di kamp Husain berdiri di kemah-kemah mereka berteriak-teriak minta tolong dan menangis keras-keras. Dan adik perempuan Husain, Zainab, tanpa mengenakan kerudung lari meninggalkan kemahnya mendatangi kakaknya sembari berteriak-teriak minta belas kasihan Ibnu Sa’ad namun hati Ibnu Sa’ad sudah tak memiliki lagi rasa belas kasihan dan murah hati.

Kepala Husain yang Terpenggal Mengagungkan Allah

Saat kepala Imam Husain dipisahkan dari tubuhnya, dan kemudian dengan ditaruh di atas ujung tombak, kepala terpenggal ini mulai mengagungkan Allah dengan suara yang keras dan kata-kata yang jelas. Kepala terpenggal ini mengatakan:

“Allahu Akbar” (Allah Mahabesar).

Dengan demikian Husain berhasil meraih kemenangan abadi atas si setan yang tak bisa menghancurkan kebenaran dengan membantai Imam Suci ini, karena Husain tetap mengagungkan Tuhan, sekalipun kepalanya sudah dipenggal, dari ujung tombak yang ada di tangan musuhnya.

Karena itu Imam Suci ini, melalui keteladanannya sendiri, telah memperlihatkan betapa menjijikkan kesesatan dan kebejatan moral itu, betapa kesesatan dan kebejatan moral harus ditentang, betapa bernilai bagi umat manusia kebenaran dan kesalihan itu. Betapa berharga kebenaran dan kesalihan bagi setiap orang beriman, dan berapapun harganya kebenaran dan kesalihan harus dibela dan dijunjung tinggi. Dan betapa dengan mati di jalan kebenaran maka kebahagiaan sejati dan abadi pasti didapat.

Jasad-jasad para Syuhada Diinjak-injak oleh Pasukan Berkuda si Setan

Setelah membantai Imam Husain beserta pengikut setianya, pasukan brutal si setan kemudian sibuk dengan perbuatan-perbuatan selanjutnya yang mengerikan. Kuda-kuda diganti sepatunya dengan sepatu yang baru. Kemudian pasukan berkuda diperintahkan untuk melindas dan menginjak-injak raga-raga kaku para syuhada dengan kaki-kaki kuda.

HUSAIN RAJA PARA SYUHADA
S.V MIR AHMED ALI
LENTERA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s