PSIKOLIGI BERKABUNG

Manfaat terpenting dari penyelenggaraan upacara berkabung adalah efek psikologis. Kebanyakan orang yang mengambil bagian dalam majelis berkabung melakukannya dengan keinginan untuk mendapatkan manfaat psikologis dan emosional. Namun demikian, sebagian orang mengatakan bahwa menyelenggarakan upacara berkabung dan banyak ritual sedih selama setahun menghalangi masyarakat tersebut dari kebahagiaan dan sukacita. Mereka berpendapat bahwa praktik-praktik ini menyebabkan orang lebih merasa tidak bahagia, putus asa dan depresi. Pada bagian ini, kita akan membahas dan menganalisis masalah lnl.
Tahapan Berkabung

Berkabung atau menangis memiliki aspek eksterior (manifestasi luar) dan interior (manifestasi batin). Penampilan luar bersifat fisiologis, dan merupakan hasil dari pengaruh psikologis dengan menggunakan rangsangan eksternal atau internal, seperti pemikiran dan perenungan. Efek psikologis ini memasuki fiosiologi otak dan saraf-saraf dan mengaktifkan bagian khusus dari otak yang mengirimkan pesan ke kelenjar air mata untuk merangsang mata supaya menjadi aktif. Hasilnya adalah air mata itu mengalir dan inilah apa yang dikenal sebagai menangis.

Manifestasi interior atau mental dari menangis mencakup efek psikologis internal. Pandangan psikologis, yang mana kami sependapat, adalah bahwa menangis “akan menimbulkan rasa sayang dan kebajikan. Menangis ditekankan dalam hadis, sejauh itu dikatakan menangis, menyebabkan orang lain menangis atau bahkan berada dalam suasana hati meratap ketika seseorang itu menghadiri upacara berkabung, untuk Imam Husain as adalah sumber manfaat duniawi dan surgawi. Berikut apa yang tersirat adalah efek internal.

Konsekuensi psikologis internal dari menangis dibagi menjadi empat jenis. Yang pertama diarahkan pada diri sendiri dan rasa tertindasnya. Jenis menangis ini dapat meningkatkan depresi dan juga bisa menyebabkan kemampuan sosial individu diganggu atau bingung. Sedangkan tiga jenis tangisan lainnya bersifat mendorong dan motivasional karena tangisan ini memiliki hubungan terbalik dengan kesedihan dan depresi. Jenis pertama dari menangis ini adalah sebagai akibat dari kesedihan nyata yang disebabkan, misalnya, oleh kematian, tetapi tiga jenis lainnya tidak memiliki kesedihan yang nyata untuk peristiwa sekarang, meskipun tangisan tersebut berlangsung dalam upacara berkabung saat ini. Empat jenis menangis ini adalah sebagai benkut :

1. Menangis sebagai akibat dari hubungan dan kasih sayang

Jenis menangis ini terjadi karena masalah atau saat peristiwa tragis terjadi, seperti kehilangan seorang kekasih. Menangis semacam ini biasanya tidak terjadi dari kemauannya sendiri, tetapi terjadi tanpa sengaja. Jenis menangis ini, dalam terminologi psikolog dan terapis mental, disebut pengosongan psikologis atau pelepasan emosional dari perasaan yang terstimulan dan berhubungan dengan individu dan rasa tertindasnya.

2. Menangis sebagai akibat dari keyakinan

Jenis menangis ini adalah jenis menangis dari orang yang meneteskan air mata pada saat berdoa sembari mengevaluasi perbuatan dan keadaannya sekarang dan yang akan datang. Jenis menangis ini berakar dalam iman dan ideologi dan tidak berhubungan dengan kekhawatiran tentang dunia ini dan kehidupan kita sehari hari.

3. Menangis untuk mencari kesempurnaan dan keunggulan

Kadang-kadang menangis adalah hasil dari mencari kebajikan dan kesempurnaan moral, seperti tangisan yang terjadi ketika seorang guru, penasihat moral, nabi, imam atau siapa saja dengan kaliber moral yang tinggi, meninggalkan kehidupan ini. Jenis menangis ini memandang hal-hal tersebut dari perspektif ini bahwasanya kita, di relung terdalam dari hati kita, memiliki kekaguman yang kuat atas kesempurnaan dan pertumbuhan spiritual. Kita menjadi tenggelam ketika jenis kesempurnaan ini tersedia, dan kita menjadi tertekan ketika mereka hilang.Tangisan yang terjadi dalam upacara berkabung kadang-kadang jenis tangisan ini.

4. Menangis bagi orang yang dianiaya dan tertindas

Dalam jenis menangis ini, kita merasa simpati kepada orang yang tengah diperlakukan dengan zalim atau tidak manusiawi, seperti ketika kita menangis karena penindasan keras yang dipaksakan kepada Nabi saw dan para lmam suci as, terutama penindasan brutal yang dilakukan terhadap pemimpin para syuhada, Imam Husain as, dan berbagai kesulitan lain yang diderita oleh Ahlulbait as.

Upacara Berkabung dan Depresi

Gangguan depresi dibagi menjadi tiga kelompok utama: 1 . Depresi berat; 2. Depresi kebiasaan; 3. Depresi mendalam.

Depresi berat adalah jenis depresi paling kuat. Beberapa tanda-tandanya meliputi:

a. Perasaan kesedihan, hampa atau tanpa tujuan untuk sebagian besar hari itu atau bahkan sepanjang hari.

b. Penurunan minat dan kenikmatan aktivitas sehari-hari untuk bagian yang lebih baik dari hari itu terlihat dan jelas.

c. Penurunan berat badan yang tampak tanpa berpantang dari makanan atau kenaikan berat badan yang tampak dalam waktu satu bulan.

d. Ketidakmampuan untuk tidur (insomnia) atau mengantuk sepanjang hari.

e. Kelelahan dan kehilangan energi untuk sebagian besar hari.

f. Merasa dirinya tidak berarti atau rasa bersalah yang berlebihan.

g. Penurunan kapasitas mental, kurangnya konsentrasi dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan.

h. Pikiran berulang tentang kematian.

Dengan mempertimbangkan tiga jenis depresi ini, jelaslah bahwa jenis depresi pertama dan ketiga tidak dimaksudkan oleh orang-orang yang mengatakan bahwa upacara berkabung adalah penyebab kesedihan dan depresi di masyarakat. Jenis pertama bersifat ekstrem dan itu jelas tidak valid untuk mengklaim bahwa masyarakat Ahlulbait as secara luas menderita depresi dan duka berat atau kronis.

Jenis depresi ketiga juga tidak dimaksudkan oleh kaum skeptis karena terkait dengan kasus khusus dan tertentu, seperti sindrom pramenstruasi (PMS) atau gangguan depresi yang mengikuti tekanan psikologis, seperti skizofrenia.

Oleh karena itu, depresi dan duka kebiasaan adalah yang dimaksudkan oleh para kritikus. Depresi kebiasaan relatif kecil dan memiliki beberapa ciri berikut:

a. Kurangnya nafsu makan atau nafsu makan yang berlebihan.

b. Kurang tidur (insomnia) atau kantuk yang berlebihan,

c. Kurangnya energi atau kelelahan yang berlebihan.

d. Kesulitan dalam pengambilan keputusan atau perasaan tidak berdaya.

e. Penampilan atau manifestasi gejala ini untuk sebagian besar hari atau untuk sebagian besar hari selama setidaknya dua tahun.

f. Gejala tersebut bukan akibat dari efek fisiologis akibat penggunaan obat-obatan yang tidak tepat, dan lain-lain.

9. Gejala-gejala ini mengakibatkan gangguan kerja individu dan aktivitas sosial.

Kini, kita akan memeriksa apakah upacara berkabung menyebabkan gejala depresi kebiasaan dalam diri manusia atau tidak dan karenanya menyebabkan keputusasaan sosialnya.

Dalam rangka untuk membuat jelas isu ini, perlu untuk meneliti faktor-faktor yang menyebabkan depresi dan putus asa dari sudut pandang psikologi. Psikolog telah menyebutkan tiga faktor utama yang menyebabkan depresi: eksistensial, keturunan dan stimulan lingkungan.

Lingkungan sekitar atau situasi saja tidak menyebabkan depresi. Bahkan, rangsangan negatif dalam lingkungan hanya efektif pada orang yang memiliki latar belakang depresi keturunan atau gangguan biologis di otak yang mempengaruhi fungsi normalnya.

Selain itu, upacara berkabung tidak dapat digolongkan sebagai penyebab lingkungan yang menghasilkan stres yang kuat. Kesedihan nyata dan kesedihan akibat kejadian tragis saat ini dapat menyebabkan penderitaan ekstrem dan depresi, tetapi upacara berkabung untuk wali Allah tidak berperan dalam mengakibatkan stres yang hebat. Sebaliknya, dengan memerhatikan permasalahan yang dibahas dalam psikologi sosial tentang karakteristik ritual keagamaan, dapat dikatakan bahwa upacara berkabung memainkan peran yang kuat dalam menghilangkan stres.

Dalam kasus di mana air mata dan kesedihan keluar sebagai akibat dari keyakinan, karena mencari kesempurnaan dan keunggulan moral, atau karena simpati kepada orang yang teraniaya dan tertindas, air mata dan kesedihan itu dapat menghasilkan ketenangan dalam diri manusia dan menghapus guncangan dari jiwanya. Guna menunjukkan substansi masalah ini, kita akan merujuk pada sebuah contoh menyangkut hal ini.

Syekh Tijani Tunisi mengatakan,

Teman saya yang bernama Mun’im datang dan kami bersama-sama pergi berziarah ke Karbala. Di sana, seperti orang Syi’ah lainnya, saya datang untuk memahami kesulitan dan penderitaan yang menimpa maula kami, Husain as. Saat itulah aku mengerti bahwa Imam Husain as sesungguhnya tidak pernah mati. Orang-orang berkerumun dan saling menekan satu sama lain di sekeliling makamnya. Mereka menangis dengan kesedihan dan penderitaan tiada tara, yang mana seperti itu belum pernah saya lihat sebelumnya. Mereka menunjukkan guncangan begitu besar hingga sepertinya Husain as baru saja syahid. Aku mendengar pembaca kisah menghidupkan kembali peristiwa tragis Karbala. Kembali diriwayatkannya oleh mereka tentang apa yang terjadi pada hari Asyura membangkitkan emosi banyak orang dan menyebabkan banyak ratapan dan tangisan. Tak seorang pun yang bisa mendengarkan cerita dan menanggung dukacita yang mendalam. Sebaliknya, beberapa orang yang mendengarkan kisah tersebut tanpa sadar nyaris pingsan.

Saya pun menangis. Saya menangis dan menangis. Saya menangis begitu banyak sehingga tampak seolah-olah duka itu telah terjebak dalam tenggorokan saya selama bertahun-tahun, dan sekarang meledak keluar.

Walaupun demikian, setelah ratapan tersebut, saya merasakan kedamaian batin. Saya merasakan ketenangan seperti belum pernah saya rasakan sebelumnya. Tampaknya, seolah-olah sebelum ini saya telah menjadi salah satu musuh dari lmam Husain as, dan dalam sepersekian detik saya telah bertobat dan menjadi salah satu sahabatnya. Dalam sekejap, saya telah menjadi pengikut manusia agung itu yang telah mengorbankan hidupnya demi pelestarian lslam.

Bahkan yang lebih menarik adalah bahwa pada saat itu, seorang pembaca naskah sedang memberikan penjelasan tentang kisah Hurr. Hurr adalah salah satu pemimpin pasukan musuh yang datang ke Karbala dengan maksud memerangi imam Husain as.tiba-tiba, Hurr mulai goncang dan gemetar di medan perang. Teman-temannya bertanya, Ada apa denganmu? Apakah kau takut mati? Dia menjawab, ‘Aku bersumpah demi Allah! Aku tidak takut mati sama sekali, tetapi aku melihat diriku mempunyai pilihan untuk memilih antara kebahagiaan abadi di surga dan kebinasaan kekal di neraka. Tiba-tiba, Hurr menaiki kudanya dan mulai menunggang menuju Husain as. Dia bergegas untuk menemui lmam Suci as dan, ketika ia menangis, berkata, ‘Wahai putra Nabi! Apakah ada pertobatan bagiku?

Percayalah apabila saya mengatakan bahwa saat itu juga, saya tidak tahan lagi. Saya mulai menangis dan menjatuhkan diri ke tanah. Tampaknya seolah~olah saya memainkan kembali bagian Hurr dan bertanya kepada Husain, ‘Wahai putra Nabi! Apakah ada pertobatan bagiku? Wahai putra Nabil Maafkan aku.

Suara pembaca naskah memberikan dampak hebat pada para pendengarnya hingga menyebabkan suara ratapan orang-orang kian keras hingga sedemikian keras seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Teman saya, yang telah mendengar suara
ratapan saya, merangkul saya dalam pelukannya sementara dia sendiri sedang menangis. Dia memeluk saya dengan cara yang sama seperti seorang ibu memeluk anaknya. Diajuga berteriak, ‘Ya Husain! Ya Husaini’

Itulah saat-saat ketika saya menyadari dan mengerti apa menangis itu sesungguhnya. Saya merasa bahwa air mata saya membersihkan dan mensucikan hati saya. Seluruh tubuh saya sedang dibersihkan langsung dari intinya. Pada saat itulah saya mengerti arti ucapan Nabi saw ketika dia berkata, ‘Kalau kau tahu apa yang aku tahu, maka kau akan sedikit tertawa dan banyak menangis! Aku menghabiskan sepanjang hari dengan kesedihan yang mendalam.Teman saya ingin menghibur saya, sehingga dia membawa sedikit jus dan kue, tetapi saya telah kehilangan nafsu makan saya. Saya menolak untuk makan dan malah meminta teman saya untuk mengulang kisah kesyahidan imam Husain as, karena saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal itu. . .’”

Sumber : Asyura dan Kebangkitan Imam Husain
Penulis : Ali Ashghar Ridhwani
Terbitan : Nur Al-Huda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s