Dialog Imam Husein dengan Sahabat-sahabatnya di Karbala 

ilustrasi Imam Husein as dan sahabatnya melakukan shalat sementara sahabat lainnya melindungi mereka saat perang Karbala. 

Malampun tiba. Al-Husain as. mengumpulkan para sahabatnya. Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, beliau berkata,

“Amma ba’du. Aku tidak pernah tahu ada sahabat yang lebih setia dari kalian atau keluarga yang lebih mulia dan lebih baik dari keluargaku. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian padaku dengan balasan-Nya yang lebih baik.

Malam kini telah tiba. Jadikanlah ini kesempatan untuk pergi. Aku minta setiap orang yang pergi membawa pergi bersamanya seorang dari keluargaku.

Pergilah di kegelapan malam ini. Tinggalkan aku seorang diri berhadapan dengan mereka. Sebab mereka hanya menginginkan aku.”

Saudara-saudara Al-Husain as., anak-anak beliau dan anak-anak Abdullah bin Ja’far berseru, “Mengapa kita mesti melakukannya? Apakah supaya kita dapat hidup lebih lama setelah kematianmu? Semoga Allah tidak menakdirkan hal itu terjadi pada diri kita.” Orang pertama yang mengatakah hal itu adalah Abbas bin Ali dan kemudian diikuti oleh yang lainnya.

Perawi berkata: Al-Husain as. mengalihkan pandangannya ke arah anak-anak Aqil dan berkata, “Cukup saudara kalian Muslim saja yang terbunuh. Kuizinkan kalian untuk pergi. Pergilah!”

Menurut riwayat lain, saat itulah saudara-saudara dan seluruh keluarga beliau berkata, “Wahai putra Rasulullah, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang dan apa jawaban kami kepada mereka jika kita sampai meninggalkan pemimpin kita dan anak dari putri Nabi kita saw., tanpa ikut membidikkan anak panah, tanpa menusukkan tombak dan tanpa mengayunkan pedang bersamanya. Tidak. Demi Allah, kami tidak akan meninggalkanmu selamanya. Tapi sebaliknya, kami akan melindungimu dengan menjadikan badan ini sebagai perisai hidupmu sampai kami semua terbunuh dan syahid di sisimu lalu masuk di tempatmu di sisi Allah SWT. Semoga Allah memperburuk kehidupan setelahmu.”

Musim bin ‘Ausajah bangkit dan berkata, “Apakah kami akan meninggalkanmu sendirian padahal musuh telah mengepungmu dari segala penjuru? Demi Allah, tidak! Semoga Allah tidak menakdirkan aku melakukan hal tersebut hingga aku dapat mematahkan tombakku di dada mereka dan membabat habis mereka dengan pedangku selagi pangkalnya masih berada dalam genggamanku. Dan jika aku tidak memiliki senjata lagi untuk berperang melawan mereka, akan kulempari mereka dengan batu. Tak akan kutinggalkan engkau sampai aku mati dalam membelamu.”

Said bin Abdullah Al-Hanafi berdiri dan berseru, “Demi Allah, kami tidak akan pernah meninggalkanmu, wahai putra Rasulullah. Sehingga Allah mengetahui bahwa kami telah menjaga wasiat Nabi Muhammad saw. dengan membelamu.

Jika kau tahu bahwa aku akan terbunuh dalam usahaku membelamu lalu hidup kembali dan dibakar hidup-hidup kemudian abuku disebarkan, begitu seterusnya sampai tujuh puluh kali, tak akan kutinggalkan dirimu sampai kutemui ajalku. Apalagi aku tahu bahwa aku hanya akan sekali mati terbunuh lalu memperoleh kemuliaan abadi.”

Zuhair bin Al-Qain tak mau kalah. Katanya, “Demi Allah, wahai putra Rasulullah. Aku gembira jika harus mati terbunuh lalu hidup lagi sebanyak seribu kali, tapi Allah menyelamatkan anda dan keluarga anda dengan kematianku.”

Kemudian sahabat-sahabat beliau yang lain mengatakan hal yang serupa. Mereka berkata, “Jiwa kami adalah tebusan jiwa anda. Kami akan membela anda dengan tangan dan wajah kami. Bila kami harus mati terbunuh di sampingmu, berarti kami telah memenuhi janji kami kepada Allah dan kami telah melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kami.”

Pada waktu itu ada yang berkata kepada Muhammad bin Basyir Al-Hadhrami, ” Anakmu kini tengah ditawan di negeri Rey Ia menjawab, ” Aku hanya mengharapkan pahala dari Allah untuk kami. Aku tidak ingin melihat ia ditawan sedangkan aku masih hidup.”

Al-Husain as. memperhatikan pembicaraan tersebut. Beliau lalu berkata,”Semoga Allah melimpahkan rahmat- Nya kepadamu. Engkau kubebaskan dari baiatku. Lakukanlah sesuatu untuk kebebasan anakmu !”

“Semoga binatang-binatang buas memangsaku hidup-hidup jika aku sampai meninggalkan anda,” katanya.

“Kalau begitu, berikan kain-kain yang ada kepada anakmu ini untuk menebus saudaranya!” ujar Al-Husain as. Kemudian kain-kain yang berharga seribu dinar tersebut diserahkan kepadanya.

Perawi berkata: Malam itu Al-Husain as. dan para sahabatnya larut dalam dengungan rabbani. Dengungan suara mereka tak ubahnya suara kawanan lebah. Mereka tenggelam dalam ruku’, sujud, berdiri menghadap kiblat dan duduk bermunajat. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s