Kalimat Imam Husein saat sampai di Karbala 

Al-Husain a.s. bangkit dan naik ke atas kudanya. Pasukan Hurr menggiring beliau dan rombongan sampai ke suatu padang yang bernama Karbala. Peristiwa ini terjadi pada hari kedua bulan Muharram. Ketika sampai di situ beliau bertanya, “Apa nama tempat ini ?” Terdengar jawaban yang mengatakan “Karbala.”

اللّهمّ إنّي أعوذ بك من الكرب والبلاء ! ثمّ قال : هذا موضع كرب وبلاء انزلوا ، هاهنا محطّ رحالنا ومسفك دمائنا ، وهنا محلّ قبورنا ، بهذا حدّثني جدّي رسول الله ( صلّى الله عليه وآله ) ! ) فنزلوا جميعاً

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari karb dan bala (Petaka dan musibah).” Lalu katanya, ” Ini adalah tempat petaka dan musibah ! Di sinilah kita semua harus berhenti. Inilah tempat kita akan dibantai. Di sinilah kita akan dikuburkan, sesuai dengan apa yang kudengar dari kakekku Rasulullah saw. Kita turun semua”

Saat itulah Al-Husain a.s. berkata kepada rombongannya, “Turunlah kalian semua! Di sinilah kita harus berhenti. Inilah tempat kita akan dibantai. Demi Allah, tempat inilah yang menjadi kuburan kita. Demi Allah, dari sinilah keluarga kita akan diseret sebagai tawanan. Hal inilah yang pernah dikatakan oleh kakekku Rasulullah saw. kepadaku.”

Mereka semua turun dari tunggangan masing-masing dan mendirikan kemah. Hurr dan pasukan berada di tempat lain yang tidak jauh dari sana.

Senandung Imam Husein saat tiba di Karbala

Al-Husain a.s. duduk sambil mengasah pedangnya dan bersenandung:

يا دهر أفّ لك ِمن خليل***كم لكِ بالإشراق والأصيل
من صاحبٍ وطالبٍ قتيل*** والدهر لايقنع بالبديل
وإنما الأمر إلى الجليل*** وكل حيّ سالك سبيلي

“Wahai masa! Kau bukanlah kawan sejati
Kau hanya berputar antara pagi dan sore hari
Antara orang pencari, kawan, dan yang dibantai Masa! Kau tak pernah puas dengan pengganti
Semua urusan hanya ada di tangan Ilahi Semua yang hidup pasti akan mati
Alangkah dekatnya waktuku untuk segera pergi Ke surga, tempat istirahatku yang abadi”

Zainab putri Fatimah a.s. yang mendengar senandung abangnya itu, dengan tangis tertahan ia berkata, “Abangku, ini adalah kata-kata orang yang sudah yakin akan segera mati terbunuh.”
“Ya, memang demikian, adikku,”jawab Al-Husain a.s. lirih.

Zainab histeris, “Oh, dengarlah Al-Husain tengah memberitahu kematiannya kepadaku.”

Mendengar itu, para wanita rombongan keluarga suci Nabi saw. itu, langsung larut dalam tangisan. Tangan-tangan mereka memukuli pipi dan menarik-narik baju mereka sendiri.

“Ya Muhammad! Ya Ali! Ibuu! Ya Fatimah! Ya Hasan! Ya Husain! Alangkah malangnya nasibku ini jika kau tinggal pergi wahai Abu Abdillah,” jerit Ummu Kultsum histeris.

Kalimat Imam Husein a.s kepada Adiknya dan keluarganya

Al-Husain a.s. segera menghiburnya, “Adikku! bersedihlah dengan ketentuan dari Allah ! Seluruh mahluk penghuni langit pasti akan mati. Mahluk di bumi ini pun tak ada yang kekal. Semuanya pasti akan binasa.” “Adik-adikku, kau Ummu Kultsum, Zainab, Ruqayyah, Fatimah, dan kau Rubab, camkan kata-kataku! Jika aku terbunuh nanti, jangan sekali-kali kalian kalian robek pakaian kalian sendiri! Jangan pula kalian memukuli wajah atau berkata yang tidak semestinya!” kata beliau lagi.

Menurut riwayat yang lain, Zainab – yang saat itu bersama para wanita anggota rombongan sedang berada di tempat lain tak jauh dari Al-Husain a.s. – ketika mendengar bait-bait yang didendangkan oleh Al-Husain a.s. tersebut segera keluar dengan seribu perasaan duka sambil menari-narik bajunya. Setelah sampai di hadapan Al-Husain a.s., dia berkata, “Oh malangnya nasib ini. Andai saja maut datang mengakhiri hidupku! Oh, ini adalah hari kematian ibuku Fatimah, ayahku Ali, dan kakakku Al-Hasan Al-Zaki, wahai pusaka mereka yang telah pergi dan pemimpin umat ini.”

Al-Husain a.s. memandang adiknya dan berkata, “Adikku, jangan sampai kesabaranmu hilang !”

Zainab bertanya, “Demi ayah dan ibuku, apakah engkau akan segera meninggalkan kami dan mati terbunuh?”
Al-Husain a.s. dengan kesedihan yang tampak jelas di raut wajahnya dan mata yang berkaca-kaca, mengatakan,
“Jika burung buruan ditinggalkan oleh pemburunya, ia akan dapat tidur dengan nyenyak.”
— Maksudnya adalah pasukan yang berada di hadapan kita ini datang untuk membunuhku dan tak akan meninggalkanku untuk dapat tenang—.

Zainab kembali bertanya, “Apakah engkau akan mereka cincang dan lucuti? Jika memang demikian, hatiku ini akan bertambah perih menyaksikannya.”
Lalu Zainab menarik-narik bajunya hingga jatuh pingsan.

Al-Husain a.s. menyiramkan sedikit air ke wajahnya hingga kembali sadar. Beliau kemudian menghiburnya dengan berkata bahwa apa yang beliau lakukan ini adalah demi kebenaran dan mengingatkan adiknya itu akan musibah yang telah menimpa ayah dan kakek mereka saw.

Salah satu hal yang menyebabkan Al-Husain a.s. menyertakan keluarga beliau dalam perjalanan yang penuh dengan duka ini adalah, jika mereka ditinggalkan di Hijaz atau negeri manapun saja, Yazid bin Mu’awiyah dapat dengan mudah memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapannya. Dan dia akan melakukan tindakan sekeji apa saja untuk memaksa Al-Husain a.s. mengurungkan niatnya untuk berjihad dan meraih syahadah.

Tindakan Yazid bin Mu’awiyah dengan menangkap dan menyandera mereka dapat menghalangi beliau untuk dapat mencapai kebahagian hakiki.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s