Malam Turunnya Para Malaikat dan Ruh 

Dalam buku Lailatul qadar karya Muhammad Taqi Mudarisi dibahas tentang keutamaan malam lailatul qadr, berikut pembahasannya.

“Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) pada malam kemuliaan dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr [97]: 1-5)

Para penafsir yang mengikuti mazhab Ahlulbait as banyak merenungkan kata tananazalla. Kata ini menunjukan arti “ Kesinambungan” mengingat kata bentuk mustaqbal dan mudhari tidak hanya menunjukkan arti yang akan datang namun juga menunjukkan keadaan terus menerus, kontinyu, dan berkelanjutan

Tepat pada kata ini terlihat jelas keunggulan besar yang membedakan mazhab Ahlulbait dari seluruh mazhab lainnya. Agama agama yang ada saat ini juga mazhab mazhab kontemporer, banyak yang berpandangan bahwa hubungan antara Tuhan dengan penduduk bumi telah selesai pada fase sejarah tertentu dan kini telah berakhir. Sebagai misal banyak orang mengklaim bahwa komunikasi antara langit dan bumi telah selesai pasca kematian Isa as – sesuai klaim mereka. Demikian halnya umat Yahudi mengklaim bahwa hubungan ini telah terhenti sejak ribuan tahun yang lalu.

Pada saat yang sama mazhab Ahlulbait yang merepresentasikan inti Islam, kita dapati memiliki keunikan dengan tetap berpandangan bahwa kontinuitas komunikasi ini tetap terjalin hingga saat ini dan akan tetap demikian adanya hingga hari kiamat. Pada setiap tahun ada suatu malam yakni malam LailatulQadr, dimana Ketika itu para malaikat turun menghampiri Hujjatullah di bumi yang tak lain adalah Imam Mahdi bin Hasan as. Mazhab kita meyakini bahwa bumi ini tidak mungkin kosong dari seorang Hujjah dan bahwa Allah tidak akan membiarkan bumi ini sendirian. Allah terlalu sayang untuk meninggalkan hamba-hambaNya.

Benar bahwa Imam Mahdi as telah gaib hanya saja tirai kegaiban tidak menghalangi tersingkapnya jejak-jejak kebaikan dan keberkahan. Pengaruh Rasulullah saw terhadap umatnya jelas tidak semata berupa pengaruh materialistik. Hal ini diargumentasikan dari firman Allah. …..
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka” (QS. Al-Anfal [8]: 33)

Sekedar keberadaan Rasulullah saw di tengah-tengah umat saja merupakan rahmat dan penyampaian dakwah beliau adalah perpanjangan dari rahmat ini. Kita tahu Allah tidak akan menurunkan azab atas sesuatu kaum sampai Allah perintahkan utusannya untuk meninggalkan mereka.

Keberadaan Imam Mahdi as di atas bumi dapat mencegah turunnya musibah malapetaka, dan azab pembinasaan. Ini merupakan salah satu dimensi dari pengaruh (keberadaan) beliau. Ada dimensi-dimensi lain yang belum kita ketahui meskipun dia ada dan dapat dirasakan pengaruhnya.

Ahlulbait as memerintahkan kita untuk menyimpulkan lewat surah al-Qadr ini akan konitunitas komunikasi antara langit dan bumi. Hujah Allah di dalam surat ini sangat terang bagi kita, di mana Allah menjelaskan bahwa para malaikat turun pada malam lailatulqadr. Artinya tanazalul (turun) adalah penurunan dalam bentuk fase-fase. Di akhir ayat ini terdapat penafsiran dan penjelasan tentang apa yang dibawa turun oleh malaikat, yaitu yang diisyaratkan dalam firmar-Nya. “untuk mengatur segala urusan”.

Apa yang dimaksud Ruh

Sebelumnya sejenak kita perhatikan kata Ruh, kita harus perhatikan terlebih dahulu kalimat “para malaikat dan ruh” dari ayat ini nampak bahwa para malaikat adalah realitas tersendiri dan ruh adalah realitas yang lain. Karena, sesuatu yang satu tidak mungkin di athaf-kan (dihubungkan) dengan dirinya sendiri. Dengan demikian ruh bukanlah malaikat. Lantas, siapa mereka?. Mengapa mereka turun pada malam lailatulqadr? Apakah ruh itu seorang saja atau beberapa orang?

Para mufassir banyak berselisih pandangan dalam menafsirkan ayat ini. Sebagian mereka berpandangan, ruh adalah pembesar-pembesar malaikat sementara sebagian lainnya berpendapat ruh adalah pribadi Jibril itu sendiri, yakni Ruhulamin (ruh yang terpercaya). Mengingat Jibril turun pada malam lailatulqadar maka Allah menyebutnya secara khusus demi menunjukkan perbedaan dan kekhususannya (dari malaikat malaikat lain- penerj.).

Pengaruh Praktis Iman kepada Malaikat

Diantara kewajiban atas masing-masing dari kita semua adalah beriman kepada para malaikat. Mereka adalah mediator-mediator bagi rahmat Allah dan jalur-jalur untuk karunia-Nya. Sebagaimana wajib juga bagi kita mencintai malaikat Jibril seperti juga mencintai Rasulullah. Sebab mencintai para maliakat itu mendorong Anda untuk meniru sifat-sifat mereka. Ayat-ayat al-Quran yang mengingatkan kita tentang malaikat, bukan sekedar mengingatkan kita tanpa tujuan namun agar di dalam diri kita mengalir sebuah gerak dan perubahan menuju orientasi malakuti.

Sebagaimana sepatutnya kita menyembunyikan cinta kepada malaikat maka suatu keharusan bagi kita untuk memperbaiki jiwa dan diri kita agar mereka turun menghampiri rumah-rumah kita, rumah yang di dalamnya dilantunkan Al-quran dilakukan dzikir kepada Allah dikaji ilmu pengetahuan dan rumah yang penuh dengan kebaikan, keutamaan, dan cinta juga menjadi sumber kebaikan bagi umat manusia, makalah rumah semacam inilah yang akan di hampiri oleh para malaikat.

Sebaliknya rumah yang penuh sesak dengan gunjingan fitnah, tuduhan. prasangka buruk, riya’, nyanyian dan tabuh-tabuhan maka rumah sejenis ini tidak akan didekati oleh para malaikat dan ketika para malaikat menjauh maka setanlah yang mendekat.

Marilah kita hidup bersama para malaikat. Hendaknya penghormatan dan pemuliaan kita kepada mereka senantiasa terjaga. Mari kita gariskan didalam jiwa-jiwa kita kecintaan kepada mereka.

Ruh itu bukan Malaikat

Terdapat sejumlah hadis dari ahlulbait as yang menegaskan bahwa ruh adalah kelompok lain yang bukan malaikat tetapi ruh adalah makhluk lain yang jauh lebih agung dari para malaikat dan dari Jibril sendiri, juga dari Mikail dan Israfil. Dari sebagian riwayat nampak bahwa Israfil-lah malaikat yang paling dekat dengan Allah. Ada riwayat riwayat lain yang menunjukkan bahwa Jibril lah yang terdekat dengan Allah namun yang tampak dari riwayat riwayat tersebut secara umum bahwa Israfil lah malaikat yang paling dekat dengan Allah mengingat dia lah malaikat terakhir yang tersisa setelah terjadinya kiamat walau demikian Israfil tidak lebih agung dari ruh. Dan ruh ini dengan segala kebesarannya turun kepada Imam Mahdi as. Dari sini kita dapat mengenal satu sisi dari keagungan Imam Mahdi as, bahkan juga keagungan manusia ketika dia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya hingga sampai pada posisi dimana ruh turun kepadanya. Melalui kemurahan Allah, manusia yang terbentuk dari daging dan darah dapat mencapai derajat dimana ruh turun kepadanya.

Atas dasar ini ruh adalah salah satu makhluk Allah, yang dengannya Allah kuatkan para malaikat. Ketika kita mendengar Jibril disebut sebagai ruh maka itu tak lain karena Allah mengutakannya dengan ruh, tak ubahnya Allah juga kuatkan Nabi kita saw dan seluruh Nabi dengan ruh, begitu juga Allah kuatkan orang mukmin yang saleh dengan ruh-Nya . Yang saya maksud dengan ruh di sini adalah “cahaya” yakni Allah menguatkannya secara khusus dengan ruh. Ruh ini menerima cahaya dari Allah, dan darinyalah cahaya tersebut mengalir kepada para malaikat. Artinya Allah menguatkan seluruh malaikat dan para rasul dengan ruh.

Pada hakekatnya ruh inilah yang pernah ditanyakan oleh orang-orang musyrik kepada Nabi yang di singgung dalam firman-Nya, Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh dan dijawab dengan.

Katakanlah ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (QS. Al-Isra [17]: 85)

Ruh ini pula yang disebut dalam firman Allah

Dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul qudus (QS, Al-Baqarah [2]: 87)

Dan terakhir, ruh inilah yang di singgung di dalam Al-Quran tepatnya dalam surat al-qadr pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (QS. Al-Qadr [97]: 4)

Dengan demikian, Ruhul Qudus adalah makhluk Allah yang lebih agung dari para malaikat; dan melalui mediasinya para malaikat nabi dan orang-orang saleh dikuatkan. Dengan ruh inilah pula jiwa-jiwa yang ada di dalam tubuh kita diperkuat.

Garis Demarkasi antara Syirik dan Tauhid

di dalam firman Allah, pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan seizin Tuhannya (QS, Al-Qadr [97] : 4), terkandung sebuah pemikiran yang sangat cermat dan isyarat yang lembut akan garis demarkasi yang memisahkan antara syirik dan tauhid. Kaum musyrikin meyakini bahwa di alam ini terdapat kekuatan kekuatan aktif lain selain Allah maksudnya mereka meyakini ada perseteruan dan perselisihan di antara para malaikat dan Allah. Gagasan tentang syafaat yang berkembang di antara mereka ini muncul dari persepsi ini mereka mempresepsikan secara salah bahwa para malaikat dapat menetapkan keharusan bagi Allah untuk memberikan Syafaat. Ketika mereka melakukan dosa dan Allah tidak bersedia merelakannya, maka malaikat dapat “memaksa” Allah agar mengampuni dosa dosa mereka.

Sementara agama Islam memandang bahwa para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang tidak memungkinkan mendahului-Nya mereka tahu betul akan perintah Allah, sebagaimana ditegaskan dalam A-quran. Ini juga akidah dan keyakinan kita mengenai para Nabi as. Mereka itu, para Nabi adalah orang orang yang agung hanya saja mereka tetap merupakan hamba-hamba Allah di hadapan-Nya. Aqidah semacam inilah garis demarkasi antara Syirik dengan tauhid. Kita berhak meyakini bahwa dengan bahwa seseorang itu beriman, berilmu maupun pejuang. Tetapi kita tidak dibenarkan meyakini bahwa dia terhubung secara langsung dengan Allah seberapapun tinggi dan dekatnya seorang hamba dengan Allah, tetap saja dia tidak akan sampai pada (posisi) Allah sebab Allah adalah Khalik dan dia (hamba) tetap mahluk. Selamanya jarak antara Khalik dengan makhluk akan tetap ada, Atas dasar itu Al-quran tidak pernah mengajukan gagasan mengenai “kontak langsung” dengan Allah, tetapi A-quran mengusulkan pemikiran “kedekatan” agar posisi Sang Khalik tetap sebagai Khalik dan makhluk tetap sebagai mahluk.

Allah berfirman pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan seizin Tuhannya (QS, Al-Qadr [97]:4) kita harus perhatikan betul ungkapan “dengan seizin Tuhannya”. Para malaikat tidak akan mendahului firman Tuhan mereka. Para malaikat itu hanyalah mediator-mediator. Perhatikan pertama mestilah diarahkan kepada Tuhannya para malaikat bukan kepada malaikat itu sendiri.

Mengenai ungkapan “malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar “ (QS, Al-Qadar [97]:5), maka sesungguhnya salam (kesejahteraan) itu memenuhi seluruh sisi malam ini. Kesejahteraan manakah yang lebih besar daripada pengutusan Allah terhadap para malaikat-Nya untuk menghampiri manusia; sesosok hamba yang terbatas, entitas yang lemah yang tercipta dari ketergesaan dan banyak berkeluh kesah itu? Allah menyampaikan salam kepadanya mengutus kepadanya para malaikat dan ruh, namun orang celaka adalah mereka yang mengubah salam ini menjadi azab Tuhan menyampaikan salam kepadanya namun dia tidak menjawab. Tuhan mengajaknya kepada jamuan-Nya namun dia tak memenuhi seruan-Nya.

Sepatah kata untuk Kaum Muda

Dalam konteks ini saya ingin mengarahkan pembicaraan secara khusus kepada para pemuda. Saya harapkan mereka menyiapkan diri mereka untuk aktivitas aktivitas menghambakan seperti ibadah tahajud dan ketundukan. Sekedar contoh saja saja sesungguhnya membaca doa Abu Hamzah Tsumali berperan dalam membentengi kita dari melakukan kesalahan-kesalahan dan bergantung pada dunia. Mmaka merupakan suatu keharusan bagi seorang pemuda muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merasa bahwa dirinya tengah berbincang -bincang dengan Sang Pencipta dan bahwa sang Khaliq Tengah menyapanya.

Dalam konteks ini Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as berkata dalam munajatnya,

“Dan sesungguhnya perjalanan menuju-Mu itu dekat jaraknya, Engkau tiada menutup Diri dari mahluk-Mu, namun perbuatan-perbuatan mereka sendirilah yang menghalangi mereka. Sungguh, aku bertekad menuju-Mu dengan harapanku menghadap kepada-Mu dengan hajatku, kujadikan Engkau tempat memohon pertolongan aku bertawassul dengan berdoa kepada-Mu tanpa berhak memaksa-Mu”

Sesungguhnya bulan Ramadhan mempresentasikan fase masa tertentu yang terbatas dan tak berselang lama untuk segera berakhir. Di tahun-tahun berikutnya kita tidak pernah tahu apakah kita masih tetap hidup atau sudah mati. Kita harus waspada dari sikap menunda-nunda untuk mengambil manfaat dari bulan yang penuh berkah ini. Kita juga harus meninggalkan aktivitas-aktivitas yang tidak ada artinya semacam menghadiri perkumpulan-perkumpulan yang penuh dengan dosa dan kemaksiatan atau obrolan-obrolan yang memalingkan seseorang dari berdzikir kepada Allah. berhati hati dari tindakan yang merusak puasa kita sendiri seperti perbuatan- perbuatan yang membuat gelap hati kita dan menjadikan hati kita keras dan tidak bisa khusuk saat berdoa kepada-Nya, mengingat Allah berfirman,

Sekali kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka (QS, Al-muthaffifin [83]: 14)

Mari sucikan kabu-kabu kita mari tingkatkan kehati-hatian kita, jangan sampai kita keluar dari bulan Ramadhan seperti saat kita memasukinya. Sekedar gerakan lisan jelas tak memberikan manfaat, namun kita harus merasakan secara mendalam penyesalan hakiki atas dosa-dosa kita. Kita harus membangun tekad yang benar-benar berakar untuk meninggalkannya. Kita tidak boleh membenarkan dosa-dosa kita apalagi malah menambahnya atau Allah akan mengharamkan kita dari mendapat ampunan nya.

Bulan Ramadhan Moment Kelahiran Baru

Ada sekelompok orang yang memasuki bulan Ramadhan dengan berlumuran dosa, namun mereka dapat keluar darinya seolah-olah mereka baru saja dilahirkan kembali. Hati dan jiwa mereka berubah menjadi suci dan bening sebaliknya ada sekelompok orang yang bahkan tak sudi memanfaatkan malam-malam Arafah (Lailatul al-jam’), lalu bagaimana dengan malam Lailatul Qadar.

Sesungguhnya momen-momen semacam ini secara spesial malam lailatul qadr, telah di khususkan secara mendasar agar manusia menyibukan diri dalam ibadah, tahajud, doa, berzikir kepada allah, meluruskan orientasi jiwa, menghalai dosa, memikirkan dan merancang masa depan. Allah tidak menciptakan kita supaya kita masu neraka Jahanam, nmaununtuk menjamu kita di surga, melimpahkan karunia-Nya kepada kita, dan membimbig kita menuju ridha-Nya, uang tak lain adalah “puncak” dari dambaan seorang insan mukminin di dalam kehidupannya. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s