SEPOTONG CINTA DI KARBALA 

Seorang anak menyediakan roti bagi para peziarah al Husein secara gratis

Peringatan perjalanan 40 hari keluarga Imam Hussain as pasca gugurnya beliau dan pengikutnya di padang Karbala atau yang biasa dinamakan Arbain, selalu meninggalkan kesan yg mendalam buat saya.

Bukan ritualnya yang menohok hati, tetapi nilai spiritualitasnya yang tinggi.

Perjalanan sejauh 80 km dari makam Imam Ali as di Najaf ke makam Imam Hussain as di Karbala Irak, bisa disebut sebagai prosesi ziarah terbesar di dunia. Bayangkan saja, total 20 juta orang berjalan kaki dengan perasaan mengharu biru mengingat peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Sebagai perbandingan, musim haji saja otoritas haji hanya sanggup menampung 2 juta orang.

Sisi spiritual yang tinggi bukan hanya dalam perjalanannya saja, tetapi juga di sepanjang jalan. Ribuan masyarakat Irak, bahkan dari luar Irak, berlomba2 menyediakan apa yg bisa mereka sediakan untuk para peziarah. Ada yang menyediakan tenda, ada yang menyediakan pijat kaki dan banyak lagi yang menyediakan makanan.

Dan semua itu gratis.

Ini ruang dan waktu dimana materi tidak berlaku. Mereka berlomba-lomba mencari dan memperbanyak pahala dari apa yg mereka mampu. Mereka akan meminta para penziarah untuk mengambil apa yang mereka tawarkan dan mereka akan sangat berterima-kasih untuk itu. Karena mereka akhirnya berfungsi sebagai pelayan dari tamu-tamu agung yang datang dari seluruh dunia.

Begitu banyak sisi humanis yang bisa dipotret dalam satu peristiwa ziarah. Membuat bahkan mendengar ceritanya saja, diri ini merasa rendah. Bagaimana diri ini merasa lebih mulya dari seorang papa yang mampu menyisihkan apa yg dia punya untuk diberikan kepada para penziarah ? Mereka bahkan mengemis supaya diterima. Mereka luar biasa kaya.

Tidak berlebihan ketika seorang teman pernah bercerita bahwa untuk membersihkan toilet di makam Imam Hussain as, banyak yang menunggu antrian selama sekian tahun lamanya. Dan mereka malah bukan dari kalangan papa, tetapi para pejabat, para pengusaha sampai para ulama.

Apa yang mereka cari sebenarnya ?

Pada tingkatan keimanan seperti mereka, manusia materi tidak akan pernah mengerti bahwa mereka menganggap materi ini semua sampah belaka. Dunia ini lebih rendah dari segala sesuatu, karena itulah ia dinamakan dunia. Mereka mencari materi bukan untuk menjadi budaknya, tetapi untuk berguna bagi manusia lainnya.

Seorang teman pernah bertanya, kapan saya akan ziarah kesana ?

Saya hanya tersenyum dan menjawab, apakah tidak cukup jiwa saya yang selalu berada disana ? Saya begitu larut dalam kisah tragis itu, sehingga saya masih belum merasa kuat untuk berada disana.

Saya takut, bahkan ketika kaki baru saja menginjak tanah di bandara, airmata saya langsung deras berderai tiada hentinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s