Tujuan Revolusi Sayyidina Imam Husein as.

Imam Husein as. mengumumkan penolakannya membaiat Yazid, karena memang dia sama sekali tidak pantas menduduki kursi kekhalifahan. Dialah seorang yang fasik, peminum arak, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Swt., dan mengharamkan yang dihalalkan-Nya.

Oleh karena itu, dalam wasiatnya kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyah, Imam as. mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak bangkit untuk membuat kerusakan ataupun kezaliman, aku hanya bangkit untuk memperbaiki keadaan umat kakekku saw. Aku ingin melakukan amar makruf dan nahi munkar. Aku akan menempuh jalan yang telah ditempuh oleh datukku Nabi dan ayahku Ali bin Abi Thalib”.

Salah satu karakter Imam Husein as. adalah tekad yang kuat dan kemauan yang membaja. Ia mewarisi karakter mulia ini dari kakeknya, Rasulullah saw. yang telah berhasil mengubah perjalanan sejarah hidup umat manusia. Ia saw. teguh berdiri di hadapan kekuatan besar yang selalu merintanginya untuk menegakkan kalimat Allah seorang diri. Ia saw. tidak peduli dengan super power itu. Bahkan ia berkata kepada pamannya, Abu Thalib: “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sehingga aku mati atau Allah akan memenangkannya.”

Dengan tekad dan kehendak yang membaja inilahnya menghadapi kekuatan syirik, dan ternyata mampu mengalahkannya dalam berbagai peristiwa. Begitu pulalah sikap cucunya yang agung ini di hadapan kekuatan Bani Umayyah.

Imam Husein as. secara terang-terangan menolak untuk membaiat Yazîd. Dengan jumlah pembela yang sedikit, ia berangkat ke medan jihad untuk menegakkan kalimat Allah (kebenaran) dan menumpas kalimat batil. Bani Umayyah telah mengerahkan bala tentara yang banyak untuk membantainya. Tetapi ia tidak peduli dengan jumlah pasukan itu. Ia mendeklarasikan tekad dan kehendaknya yang kuat dengan slogannya yang abadi: “Sesungguhnya aku tidak melihat kematian melainkan kebahagiaan dan tidak hidup bersama orang- orang yang zalim melainkan kehinaan.”

Imam Husein as. bergerak bersama keluarganya yang mulia dan para sahabatnya ke medan perang demi mengibarkan bendera Islam dan merealisasikan kemenangan yang paling agung bagi umat Islam hingga ia meneguk cawan syahadah. Ia orang yang memiliki kehendak paling kuat dan keputusan paling kokoh yang tidak goyah dalam menghadapi berbagai bencana yang membuat akal terkesima dan naluri takjub.

Imam Husein as. mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh di padang Karbala bersama sahabat-sahabat dan keluarganya. Meski demikian, beliau tetap bangkit dalam rangka membangunkan umat Islam dari tidurnya, sehingga mereka tahu kenyataan Muawiyah dan anaknya Yazid yang sebenar-benarnya, bahwa dua orang ini akan melakukan apa saja demi mempertahankan kekuasaannya, walaupun mereka harus membunuh cucu Nabi saw. dan menjadikan perempuan-perempuan Ahlul Bait sebagai tawanan.

Sesungguhnya Imam Husein as. telah mempersembahkan segala yang beliau miliki hanya untuk memuliakan Islam dan kaum muslimin. Beliau telah mengorbankan anak-anaknya, wanita-wanitanya, dan sahabat-sahabatnya bahkan dirinya sendiri di jalan Allah Swt.

Beliau mengajarkan kepada manusia tentang kebangkitan yang menentang segala macam kezaliman dan kerusakan. Beliau habiskan hari-hari akhirnya dengan membaca Al-Qur’an dan ibadah semata-mata karena Allah Swt., sehingga meski di tengah-tengah peperangan pun beliau meminta kepada musuh-musuhnya agar menghentikan peperangan dalam beberapa saat hanya untuk menunaikan salat. Imam as. tetap menunaikan salat bersama sahabat-sahabatnya di bawah ribuan panah yang menghujani mereka.

Revolusi dan kebangkitan yang dilakukan Imam Husein as. berada di jalan Allah Swt. dan dalam rangka mempertahankan Islam. Oleh karena itu, umat Islam akan mengenang beliau selama-lamanya. Mereka mengenang duka-nestapa hari Asyura; hari yang telah menyaksikan penyembelihan biadab yang dilakukan Bani Umayyah terhadap cucunda Nabi dan sebaik-baik warisan hidup Islam.

Sebagian orang beranggapan bahwa Imam Husein as. telah menderita kekalahan dalam pertempurannya melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Akan tetapi, tatkala kita cermati lembaran-lembaran sejarah, kita akan menyaksikan bahwa Imam Husein-lah yang sesungguhnya menang atas musuh-musuhnya. Karena, tujuan-tujuan kebangkitan dan kesyahidan beliau senantiasa hidup di dalam sanubari setiap manusia.

Pernahkah kita bertanya, di mana Yazid sekarang? Di mana Ibnu Ziyad sekarang? Bahkan Muawiyah sendiri, di manakah dia?

Ya, mereka semua telah pergi dan tidak ada yang mengenangnya. Kalaupun ada yang menyebut nama mereka, sebutan pun hanya berupa kutukan dan laknat atas kejahatan mereka.

Orang-orang pendengki selalu berupaya menghancurkan Imam Husein as. Akan tetapi, Allah Swt. menghendaki beliau abadi, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, laknat di dunia dan neraka di akhirat merupakan nasib musuh-musuh beliau.

Demikianlah, tragedi Karbala sungguh telah menjadi pilar bagi kebangkitan, kebebasan, dan kemenangan darah di atas pedang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s